Kamis, 27 Oktober 2011

Becoming a mom, it's simple yet complicated ...

Hari-hari belakangan ini, sering kali terpikir ingin segera menyelesaikan kuliah, mendapat gelar sarjana, bekerja, bertemu pasangan hidup, menikah, dan... Menjadi seorang mama.
Imajinasi yang lurus, bukan? Menjadi seorang mama. Simple yet complicated.

Hanya berandai betapa indahnya nanti, jika suatu hari menjadi mama, maka hal-hal yang belum sempat kudapatkan dari mama di masa kecilku, bisa aku berikan bagi anakku nanti.

Sederhana saja di otakku ...

Pastinya mencari pasangan yang seiman. Itu (kebetulan) tidak didapat oleh mama. Hal yang kecil, tapi ketika dijalani, terlalu banyak hambatan yang aku temui sebagai anak ketika harus berurusan dengan yang namanya perbedaan keyakinan orang tuaku. Aku hanya berkhayal kelak anakku akan mantap mengerti arah hidup yang jelas karena papa dan mamanya mendidik dalam satu kapal yang sama.

Lalu...
Les piano! Atau... Biola...! Dan vokal...! Sekolah ternama...! Ahh...
Semua itu aku mau, tapi memang tidak aku dapatkan sedari kanak-kanakku... Les bahasa asing pun belum disadari penting oleh mamaku sampai usiaku yang ke 15 tahun. (Atas inisiatifku, barulah aku mulai les bahasa asing). Ya, memang terlambat.

Masih banyaklah segudang impian yang ingin sekali kuberikan bagi anakku, yang kalau mau egois menuntut, itu semua belum diberikan mama bagiku.
Tapi, satu hal aku bersyukur pada Tuhan, karena di masa kanak-kanak yang tidak terlalu hebat itu, mamaku sempat membawaku ke Sekolah Minggu. Tempat bersejarah, dimana hidupku hari ini pasti menjadi akibat dari tindakan mama hari itu. Dia, yang memelihara iman mamaku, juga mau memelihara imanku yang kecil ini.

Mama... Inspirasi dan teladan hidup yang sangat sederhana namun sangat bermakna. Aku sama sekali belum berani menulis note tentang pribadi mama secara keseluruhan, aku takut ada satu keindahannya yang tertinggal. Memang ada hal-hal yang tidak terpikir olehnya sedari masa kanak-kanakku di atas, tapi tidak pernah aku menuntut itu semua padanya.

Keterbatasan-keterbatasan dijelaskannya menggunakan bahasa kasih, tegurannya mendidik, dan arahannya bijak. Dia benar-benar sederhana, pekerja keras, bersahaja, sangat sabar, penyayang, apa adanya.. Hidupnya menjadi inspirasi bagiku, untuk suatu hari berdiri di posisi yang terhormat, seperti dirinya, menjadi mama.

He Did An Action ...

Malam ini, tepatnya sekitar pukul 19.05 Wib, di lampu merah seberang hotel Ciputra.
Ada pemandangan sederhana yang cukup indah buat saya, ditengah hiruk-pikuknya kesibukan kota metropolitan, Jakarta.

Duduk di dalam bus patas ac jurusan tangerang-kota, saya menunggu untuk sampai di halte bus Grogol. Hal yang biasa, ketika lampu lalulintas berubah menjadi merah, di pingggiran jalan nampak banyak orang lalu-lalang untuk menyebrang.

Hal yang menarik buat saya adalah ketika melihat seorang pria 20-30an tahun, berkemeja biru muda dengan setelan celana panjang bahan, sepatu pantofel, tas ransel, dan kresek hitam di tangan kirinya, berhenti sejenak dari langkahnya. Ia bergerak agak ke pinggiran jalan, lalu mulai memanggil anak-anak jalanan yang hendak naik ke bus-bus untuk mengamen. Sekilas saya melihat ada 3 orang anak jalanan mendekatinya; kalau boleh diterka, mungkin seusia 5, 7, dan 13 tahun. Pria tadi langsung menyodorkan bungkusan nasi satu-persatu kepada anak-anak jalanan tersebut dengan senyum ikhlas, meski nampak lelah sehabis ngantor, sambil sempat mengelus rambut dan menepuk-nepuk punggung dari anak-anak itu, lalu ia langsung berjalan pergi.


Benar-benar pemandangan yang sangat singkat! Seakan dinamika kesibukan orang-orang kota yang lalu lalang itu di-pause berhenti sejenak, moment tadi hadir, kemudian tombol continue ditekan kembali.

Ternyata, masih ada tindakan sederhana semacam itu di malam kemerlapnya kota metropolitan, yang mayoritas hidup dalam pola lingkaran gengsi dan ketamakan, serta egoisme tingkat tinggi. Apalagi kalau kita mengarahkan pandangan sedikit ke pusat kota, sebutlah Senayan, yang sudah beribu janji dilontarkan oleh mereka, ratusan UU tentang kemiskinan dibentuk dan direvisi, puluhan studi banding ke luar negeri dengan budget yang berlimpah ditengah kesulitan bangsa, namun entah berapa aksi nyata yang mereka lakukan.

Salut dengan tindakan kecil pria tadi, yang sempat membuat saya, penumpang lain, bahkan supir dan kenek bus pun geleng kepala, mungkin sejenak tersentuh dan tertegun... he did an action.

koin-koin kecil ...

Pagi ini ...
Kita sama-sama terbangun dan masih tersadar,
Kita bernafas. Ya, masih hidup.
Tapi ...
Pagi ini, giliran kau yang mengajariku apa itu kehidupan.
Meski kau mungkin 15 tahun lebih muda dariku.


Pagi ini, aku bertemu denganmu..
Ya, semuanya berawal dari pagi ini.


Pagi ini, aku terbangun.
Mungkin dalam kebodohanku,
Kau bisa saja sebut aku pemalas, tak tau terima kasih.
Dikala kau, juga terbangun, dan kurasa dengan kepolosanmu,
Aku lirih untuk menyebutmu “kasihan”.
Toh sebenarnya lebih “kasihan” diriku, yang lebih suka bersungut-sungut dibandingkan dirimu.

Pagi ini, ibuku masih membangunkanku, menyiapkan sarapan untukku.
Memberi uang transport dan uang jajan yang bukannya sedikit...
Dikala kau, ketika terbangun, tak ada ibu di sisimu,
Bahkan kau tak sempat mengingat akan wajahnya sedari lahir.
Dan uang bagimu..
Ah, mungkin hanyalah koin-koinan yang sesegera kan kau tukar dengan nasi bungkusan,
Sekedar mengisi perutmu yang kosong semalaman kemarin.

Pagi ini, aku masih sempat mengulur waktu, bernyanyi sumbang di kamar mandi,
Sekedar menghibur diri.
Dikala kau, pagi-pagi benar, bukannya menghibur diri, kau lantas menghibur orang lain.
Kau berani, berani malu, berani nekad,
ya karena inilah cara terbaikmu bertahan hidup, sendirian.
Bernyanyi dari pagi, dari bus yang satu ke bus lainnya,
Meminta-minta koin dari tangan-tangan yang erat memeluk tasnya,
Seakan kau hanyalah pengganggu perjalanan mereka.

Kau tahu, pagi ini aku mendengarkanmu,
Meski gelagatku sama seperti mereka, seakan terganggu!
Kau membuka nyanyian dengan lagu gereja,
Kemudian doa kecil kau panjatkan, aku rasa itu juga untuk kami...
Kemudian kau bernyanyi lagi,
Sambil bus itu melaju kencang ditemani pemandangan petakan sawah di pinggir tol..

Dan kau mulai memunguti koin-koin di tangan kami,
Sebelum akhirnya tiba di rest area,
dan kau turun,
dan bersiap berpindah ke bus yang satu lagi.

Koinku sudah kumasukkan ke bungkusan itu tadi,
Meski aku sempat bingung, pecahan berapa yang pantas aku berikan,
Kalaupun itu masih bisa dibilang “untuk menolongmu”.
Yang pasti kau mengajariku pagi ini,
Tentang kehidupan..
Hanya lewat kehadiranmu di bus kota,
dan nyanyianmu.

Dan ketika semangat belajarku mungkin patah lagi di hari lain, kau tahu?
Aku akan mengingatmu, dan nyanyianmu.
Itu menamparku untuk tersadar,
Betapa bodohnya aku yang tak peka mensyukuri hidup,
lantas bersungut seakan sangat merana di dunia ini.

Aku mendoakanmu, sahabat kecil,
dan aku belajar darimu, pagi ini. Terima kasih.