Hari-hari belakangan ini, sering kali terpikir ingin segera menyelesaikan kuliah, mendapat gelar sarjana, bekerja, bertemu pasangan hidup, menikah, dan... Menjadi seorang mama.
Imajinasi yang lurus, bukan? Menjadi seorang mama. Simple yet complicated.
Hanya berandai betapa indahnya nanti, jika suatu hari menjadi mama, maka hal-hal yang belum sempat kudapatkan dari mama di masa kecilku, bisa aku berikan bagi anakku nanti.
Sederhana saja di otakku ...
Pastinya mencari pasangan yang seiman. Itu (kebetulan) tidak didapat oleh mama. Hal yang kecil, tapi ketika dijalani, terlalu banyak hambatan yang aku temui sebagai anak ketika harus berurusan dengan yang namanya perbedaan keyakinan orang tuaku. Aku hanya berkhayal kelak anakku akan mantap mengerti arah hidup yang jelas karena papa dan mamanya mendidik dalam satu kapal yang sama.
Lalu...
Les piano! Atau... Biola...! Dan vokal...! Sekolah ternama...! Ahh...
Semua itu aku mau, tapi memang tidak aku dapatkan sedari kanak-kanakku... Les bahasa asing pun belum disadari penting oleh mamaku sampai usiaku yang ke 15 tahun. (Atas inisiatifku, barulah aku mulai les bahasa asing). Ya, memang terlambat.
Masih banyaklah segudang impian yang ingin sekali kuberikan bagi anakku, yang kalau mau egois menuntut, itu semua belum diberikan mama bagiku.
Tapi, satu hal aku bersyukur pada Tuhan, karena di masa kanak-kanak yang tidak terlalu hebat itu, mamaku sempat membawaku ke Sekolah Minggu. Tempat bersejarah, dimana hidupku hari ini pasti menjadi akibat dari tindakan mama hari itu. Dia, yang memelihara iman mamaku, juga mau memelihara imanku yang kecil ini.
Mama... Inspirasi dan teladan hidup yang sangat sederhana namun sangat bermakna. Aku sama sekali belum berani menulis note tentang pribadi mama secara keseluruhan, aku takut ada satu keindahannya yang tertinggal. Memang ada hal-hal yang tidak terpikir olehnya sedari masa kanak-kanakku di atas, tapi tidak pernah aku menuntut itu semua padanya.
Keterbatasan-keterbatasan dijelaskannya menggunakan bahasa kasih, tegurannya mendidik, dan arahannya bijak. Dia benar-benar sederhana, pekerja keras, bersahaja, sangat sabar, penyayang, apa adanya.. Hidupnya menjadi inspirasi bagiku, untuk suatu hari berdiri di posisi yang terhormat, seperti dirinya, menjadi mama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar