Jumat adalah hari "bernafas" bagi saya. Setidaknya untuk 6 bulan ke depan.
Hari dimana jarak Jakarta-Tangerang tidak perlu saya lalui. Tidak perlu berangkat pagi-pagi menunggu bus 104 atau 157 yang menempu 18 KM sepanjang tol Karang Tengah, juga tidak perlu ikut berlama-lama "ngetem" di angkot yang mengantarkan saya ke kampus biru.
Jumat, hari off kuliah saya, yeeeyy... :D
Dan, hari Jumat kali ini saya isi dengan aktifitas merapikan folder di laptop dengan mengelompokkan data-data perkuliahan berdasarkan mata kuliah dan semester.
1st semester
2nd semester
3rd semester
4th semester
5th semester
6th semester.......
And, wow! 6th semester!
Saya bukannya kaget, atau barangkali lupa ingatan. Tidak, tidak, saya sadar kalau sekarang sudah ada di semester 6 perkuliahan saya. Artinya, tinggal selangkah lagi untuk keluar dari rutinitas anak kuliah dan masuk ke rutinitas pekerja profesional. Ah! Profesional! Terlalu muluk rasanya untuk menyebut kata profesional, oke, mari kita ganti dengan kata Fresh Graduate, mungkin lebih baik.
Yah, apapun itu, semester 6 menandakan kalau saya bukan lagi seorang bocah ingusan yang baru belajar soal Public Relations, meskipun pada kenyataannya, konsep-konsep di dalam profesi Public Relations masih berserakan di otak saya dengan konstruk yang belum jelas. Terkadang, ada rasa dilema atau bahkan down kalau menyadari realita sudah di semester 6 ini. Di saat seharusnya sudah makin jelas tentang materi, sudah mantap ingin magang dimana, sudah punya bayangan untuk judul skripsi, sudah ada ketertarikan untuk kerja di bagian dan perusahaan apa, sudah siap mental dan intelektual untuk terjun jadi profesional, tapi.....
lagi-lagi, saya belum.
Tapi, mau belum sampai kapan?! Kapan baru bisa siap?! Kapan mulai bersaing di dunia kerja yang real?! Kapan pakai ilmu yang selama ini didapat dari bangku kuliah?!
Bukan cuma saya, ini juga untuk teman-teman lain yang mungkin, merasakan hal yang sama.
Kuliah itu proses belajar, tapi tidak bisa dipungkiri, hanya kurang lebih 15% dari yang namanya BELAJAR.
85% lagi, harus kita gali sendiri, harus kita alami lewat pengalaman.
So, semester 6 bukan lagi ajang "mengasihani" situasi, tapi ranah untuk LEARN MORE, DOING MORE...
Apapun pencapaian atau kegagalan di belakang, itu semua adalah proses yang harus jadi bahan evaluasi.
Selanjutnya, kejar masa depan kita! Terkadang, semangat memang harus dibangkitkan dari hasil refleksi pribadi, bukan menunggu-nunggu ada stimulus dari orang lain yang membuat kita bangun dan bergerak.
So, I'm making my 6th semester motto by saying this:
I am going to be a PROFESSIONAL public relations; how about you?
Suvi
Suvi' -- wall
Jumat, 01 Maret 2013
Selasa, 03 Juli 2012
Nice To Meet You - #Event : Yuk, rangkai 99 kata bersama GagasMedia#
“Kok km cowo sukanya STROBERI sih?
Muahahahaha....”
“Iya, km malah sukanya coklat yah.. tp
enak tuh di mix, rasa Coklat Stroberi deeh, hehehe... km blm tdr
jam sgini?Hati2 diliatin Kuntilanak,wk9x.....”
“Blm...Km tuh ditemenin pocong2,haha”
Aku masih ingat, itu reply SMS-ku yang
mulai Ngocol Ngalor Ngidul karena ingin terus-terusan SMS Ketawa
Ketiwi dengan si dia.. It was really an Unforgettable night. Malam
pertama dia mengajakku berkenalan dan langsung sanggup menata kembali semua Serpihan
Hati-ku.
Malam itu, aku tahu, aku....
Jatuh Cinta dengan dia,
yang telah membuka pintu hatiku kembali.
Only you, thanks for giving me the
Flavor of Love, again.
Senin, 02 Juli 2012
c-i-n-t-a ???
Ketika kamu memandang seseorang,
mengagumi dan berambisi untuk memilikinya, itu bukan cinta.
Kamu sedang menyamakan dia dengan sebuah komoditi atau barang dagangan.
Yang ketika berhasil kamu dapatkan, ada kebanggaan yang sangat mendalam untuk memamerkannya ke semua orang di sekelilingmu.
Ketika kamu berhasil mendapatkan orang itu dan banyak menuntut perubahan darinya, itu bukan cinta.
Kamu sedang menikmati sebuah ide, sama halnya seperti membeli mobil baru.
Yang ingin sekali kamu modifikasi sesuai keinginan hatimu, sesuai dengan ideal di khayalanmu.
Hei, dia manusia, bukan barang!
Yang lebih parah lagi, ketika kamu sudah bosan dengannya,
dengan mudah kamu buang jauh-jauh dengan alasan yang basi : Jenuh.
Ketika dia tidak mampu menampilkan semua "kehebatannya", tinggal keburukannya,
lalu kamu berlari menjauh seakan tidak ingin mengenalnya lagi.
Kalau memang cinta bisa seremeh ini, mungkin kisah Romeo dan Juliet tidak pernah ada dalam sejarah Titanic yang tenggelam itu.
Kalau memang cinta bisa segampang ini, mungkin sudah jauh-jauh hari Habibie meninggalkan Ainun dengan kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya yang lemah.
Yang bukan dengan mudah kita dapatkan di pertokoan malam di jalan Malioboro,
tapi harus kita nantikan sepasti datangnya musim semi yang menumbuhkan sakura di Tokyo.
Butuh waktu, butuh pengharapan, butuh kesabaran, butuh perjuangan.
Karena tak selalu sakura itu tumbuh berseri setiap musimnya,
hanya pada musim semi yang terindah,
yang memang ada masanya bagi setiap insan di dunia.
Cinta butuh penantian ...
Yang terkadang panjang, terkadang lama datangnya.
Tapi percayalah, cinta sepasti musim semi,
Jumat, 11 Mei 2012
Keep Walking ...
Hari ini "melegakan", tulisan kali ini juga.. (yah setidaknya buat saya dan seorang sahabat sih...)
Kita seketika berubah menjadi para "Maria-Maria Teguh" yang belajar memotivasi satu sama lain ketika curhat soal.......
-Jalan Hidup-
It maybe looks too boring when you haven't jumped into the stories. It's just about another problems in life, in campus life. Maybe, once you meet the problems, once you can't handle it by yourself, once you cry out so loud, and finally you try to share it to someone, it means something. Jalan hidup, it really means something, it does exist in all human beings!
Persoalan kami simple, yang satu gagal diterima magang di salah satu perusahaan TOP Indonesia, dan saya sendiri gagal diterima apply beasiswanya , juga di salah satu perusahaan TOP Indonesia.
Permasalahannya, kami punya ekspektasi dan harapan yang benar-benar tinggi kalau bisa mendapatkannya, she said "padahal tinggal selangkah lagi, ling..."
"Yah, kadang gue bingung, apa yang salah sama capability kita, kenapa gagal, gagal, dan gagal lagi..."
Masih banyak lah curhatan yang gak mungkin diekspos disini.
Tapi, konklusi kita cukup melegakan, at least, curhat ini gak berujung dengan kata-kata yang nampaknya cuma mau nunjukin simpatik "yang sabar yah.." atau "tetap semangat yah, gue yakin lu bisa koq..."
Untungnya, curhat ini membuat kita jadi brain storming soal memilih, soal merelakan, dan soal move on. Semua ini intinya tetap, soal belajar seumur hidup.
Curhat ini panjang, gak cuma sehari. Tapi, ada quote-quote yang mungkin boleh di share di sini, hasil bergumul bersama, dan semoga teman-teman pun bisa mengambil hikmahnya.
Soal memilih -- perkara mau coba (apply) atau gak pernah coba sama sekali.
Kenapa? Karena takut gagal lagi ketika mencoba dan ditolak lagi, lagi, dan lagi...
Lalu, konklusinya muncul dengan satu kalimat ini :
"Coba.. atau... gak pernah coba sama sekali karena takut! Kalau coba, masih ada kemungkinan 50% berhasil dan 50% gagal. Kalau gak pernah sama sekali karena takut gagal, yah sudah 100% gagal."
Soal merelakan, kita berdua belajar soal try the best dan berserah (surrender).
Konklusi kita : Yaa, gak bisa dipungkiri kalau hidup memang ada happiness and sorrows. Kita berdua mungkin sering kali gak mau mandang sisi kegagalan, yah karena setiap orang toh lebih senang berandai-andai yang baik dan memandang keberhasilan dalam semua usaha mereka.
Tapi, memang lewat bercerita ke orang lain, kita yang sudah terbang tinggi dengan kenikmatan angan-angan dan harapan, harus sekali-kali "ditampar" untuk ingat kalau ada realita yang harus terus dihidupi, hidup yah soal adanya hal yang baik, juga gak lepas dari hal yang buruk.
"Gue berdoa siang malem, gue udah coba bikin yang terbaik, tapi ternyata gak cukup...."
"(hening cukup lama) Gue sih percaya sama yang namanya takdir, jalan yang diatur sama yang di Atas. Gue gak muluk, itu yang gue percaya... yah mungkin bisa kita bilang, tiap orang punya "hoki"-nya masing-masing..."
"Tapi, apa lagi gitu yang kurang.. I've tried the best, you know it..."
"(might be), kita yang kurang berserah. Yaudah lah, life must go on, kalau kita udah done the best dan belum dapat hasil, bukan berarti kita harus nyesel, sedih, kecewa, hancur hati, dan GALAU tok!"
Dan terakhir, soal move-on.
Diawali dengan otak gue yang sempat kepikiran satu tragedi pas hape (yang susah payah dibeli pake duit tabungan sendiri) gak sengaja kebanting temen, gue dilema mau marah dan ngambek. Tapi, seketika terpikir kalau marah pun gak bisa bikin layar yang udah terlanjur lecet itu balik jadi mulus lagi, kecuali gue cari cara lain, beli anti gores atau lain kali lebih hati-hati megang hape.
Formulanya mungkin sama. Kalau gagal dan gak keterima, mau marah dan nyesel se-galau apapun gak bisa merubah keputusan itu kan? Yah kecuali cari jalan-jalan yang lain, tetap do the best dan move on!
Kalau pun tadinya kita berdua sempet mikir "padahal tinggal selangkah lagi....", di akhir konklusi itu, menurut kita, bukan tinggal selangkah lagi, tapi masih ada ribuan langkah yang masih harus ditempuh; lewat jalan mulus atau jalan bebatuan, yang indah atau menyakitkan, yang kadang perih, kadang menyiksa, sering melelahkan, kadang penuh tawa, tapi gak jarang penuh air mata...
Kalau pun tadinya kita berdua sempet mikir "padahal tinggal selangkah lagi....", di akhir konklusi itu, menurut kita, bukan tinggal selangkah lagi, tapi masih ada ribuan langkah yang masih harus ditempuh; lewat jalan mulus atau jalan bebatuan, yang indah atau menyakitkan, yang kadang perih, kadang menyiksa, sering melelahkan, kadang penuh tawa, tapi gak jarang penuh air mata...
Yang akhirnya kita (berdua) belajar lagi, dan bikin kesimpulan,
"itu semua yah langkah demi langkah yang memang ada di Jalan Kehidupan.
Selama kita hidup, kondisi baik atau buruk, kita harus melangkah terus ke depan, kan?...
Lets enjoy it and keep walking...."
Lets enjoy it and keep walking...."
Inspired by my lovely friend,
all of us (I hope include the readers),
we are on this journey of life. Lets keep walking. =)
Sabtu, 05 Mei 2012
I am not your helper nor richer than you
I am just --- blessed...
Jendela yang terbuka lebar tepat di sebelah kanan wajah saya mulai menerpakan angin kencang, diikuti suara gemuruh mesin bus yang melaju cepat.
Kertas cetakan yang sudah saya siapkan untuk belajar UTS pun nyaris terlepas dari genggaman. Saya putuskan untuk sebentar memerhatikan si supir bus bertopi hitam yang nampak mulai ugal-ugalan; tangan kirinya cukup lihai mengendalikan setir sementara tangan kanannya bergelantungan di pintu sambil memegangi rokok batangan yang baru dibelinya. Suaranya pun meningkat, berusaha meminta si kenek bus yang ada di kursi belakang untuk membantu mengatur ruang gerak bus yang mau menyelip kontainer gandeng agak ke kiri.
"Hmm.. masih ada 19 kilometer bersama supir gila ini...", pikir saya.
Duduk di baris kedua dari depan, jantung saya cukup berdebar dikala si supir mulai menancap gas lebih kencang dan mulai mendahului trayek saingannya yang sama-sama mengarah ke Kebun Jeruk untuk "melahap" penumpang sebanyak-banyaknya, yang akan dibawanya menuju Islamic, Lippo Karawaci.
Saya agak bersiap diri, semua kertas dan buku file yang tadinya saya genggam di tangan untuk belajar pagi itu, saya putuskan untuk memasukkannya ke dalam tas. Barangkali bus akan oleng atau menabrak apapun yang ada di depannya, setidaknya saya masih bisa berpegangan pada bangku di depan saya, pikir saya yang begitu di luar logika.
Mungkin ini rasa cemas yang berlebihan, tapi kalau dipikir lagi, nampaknya hal ini wajar karena sepanjang saya menumpang pada kendaraan umum seperti itu, memang sering kali supir bus ugal-ugalan menyetir demi mengejar setoran - mungkin jarang sekali mereka sempat berpikir untuk mengedepankan kenyamanan dan keselamatan penumpangnya.
Yang jelas, kami yang sudah membayar dan duduk di deretan kursi bus itu cukup siaga untuk berpegangan dan menjaga keseimbangan menyeimbangi gerak bus yang melaju kencang dan bergerak sangat 'luwes' tak beraturan itu.
Sepanjang perjalanan itu, wajah penumpang di sekitar saya cukup panik. Bus yang melaju kencang, tiba-tiba menyelip kontainer besar ke arah kirinya, kemudian kembali menancap gas, juga tidak memasang jarak aman dengan mobil sedan yang berjalan agak pelan di depannya, menekan klakson berulang kali agar mobil yang menghalanginya bergerak minggir; ulah si supir benar-benar seperti rajanya jalanan. Entah, mungkin beberapa dari kami di dalamnya hanya berdoa dalam hati, dan mungkin juga di saat-saat mencekam seperti itu kita baru dipaksa mengingat sang Khalik(?)
Entahlah...
Sepanjang perjalanan "extreme" kali itu, ada satu moment berkesan untuk saya.
Seorang kakek tua yang begitu renta, tebakan saya, mungkin seusia 65 tahun ke atas, dengan baju kemeja putih yang sangat kotor dan usang, berdiri ke tengah koridor. Tadinya saya pikir sang kakek adalah penumpang yang ingin berpindah ke kursi deretan depan, tapi ternyata, sang kakek justru hendak mengamen di koridor bus!
Awalnya, sang kakek berusaha keras berjalan sepanjang koridor dari depan sampai belakang bus untuk menyodorkan amplop kecil ke penumpang, dengan harapan diisi dengan recehan seikhlasnya.
Amplop itu bertuliskan (seingat saya) : "assalam'mualaikum wr wb. saya mengamen untuk menambah ongkos pulang ke kampung di Solo. Mohon bantuan bapak/ibu. "
Dengan tubuhnya yang kecil dan lemah, kakek ini gemetar menyusuri koridor bus dengan berupaya keras berpegangan di kedua sisi tempat duduk, salah satunya pada senderan kursi saya.
Iba, dan merasa begitu guilty feeling; ingin rasanya berkata ke sang kakek untuk berhenti saja, kalaupun memberi sejumlah uang, pastilah penumpang bus itu rela.
Dengan kondisi supir bus yang masih menyetir ugal-ugalan, sang kakek hanya berusaha keras berdiri di koridor tengah bus, entah apa yang diucapkannya, suranya sayup-sayup terdengar. Jelas, tubuhnya saja sudah renta, ditambah tenaga yang harus dikeluarkannya untuk berdiri di tengah laju bus yang kencang tak beraturan, masih kuat berbicara saja benar-benar usaha yang keras. Siapapun yang melihat sang kakek pagi itu seharusnya sadar kalau ada seorang tua yang "butuh pertolongan", bukan sekedar "minta recehan sisa".
Entah dimana sang kakek ini sekarang, barang kali sudah hampir satu bulan saya tidak bertemu lagi dengannya. Saya masih berharap sang kakek benar-benar sudah pulang ke kampungnya, setidaknya ada keluarga yang merawatnya di hari tuanya itu, bukan lagi menempa diri dalam kerasnya kehidupan.
***
Well, singkat cerita, saya dan rombongan penumpang bus hari itu masih selamat tiba di Islamic.
Tidak kekurangan suatu apapun, malah buat saya, bertambah satu pengalaman lagi.
Yang meskipun dinilai sangat remeh, sangat sepeleh,
tapi buat saya, it's another experience in life.
I am blessed.
Satu kalimat yang bukanlah sekedar saya baca atau dapatkan dari textbook perkuliahan; lebih lagi, ini tentang kehidupan, soal pilihan yang remeh namun berdampak dalam pembentukkan saya - Ini soal anugrah dan menghitung berkat.
Ini soal bersyukur dan bersyukur lagi untuk setiap hal, hebat ataupun remeh.
Ini soal pilihan - memilih rutinitas ini, bukan hal yang sebenarnya saya dambakan sebagai seorang pemudi, ini hanya soal bagaimana mengambil sikap : pilih yang nyaman tanpa derita, atau yang hiruk pikuk namun banyak cerita.
Dan bagi saya, pilihan ini patut disyukuri, karena meski terkadang lelah, tapi disanalah saya banyak belajar lagi, soal kehidupan. Thank God.
Jendela yang terbuka lebar tepat di sebelah kanan wajah saya mulai menerpakan angin kencang, diikuti suara gemuruh mesin bus yang melaju cepat.
Kertas cetakan yang sudah saya siapkan untuk belajar UTS pun nyaris terlepas dari genggaman. Saya putuskan untuk sebentar memerhatikan si supir bus bertopi hitam yang nampak mulai ugal-ugalan; tangan kirinya cukup lihai mengendalikan setir sementara tangan kanannya bergelantungan di pintu sambil memegangi rokok batangan yang baru dibelinya. Suaranya pun meningkat, berusaha meminta si kenek bus yang ada di kursi belakang untuk membantu mengatur ruang gerak bus yang mau menyelip kontainer gandeng agak ke kiri.
"Hmm.. masih ada 19 kilometer bersama supir gila ini...", pikir saya.
Duduk di baris kedua dari depan, jantung saya cukup berdebar dikala si supir mulai menancap gas lebih kencang dan mulai mendahului trayek saingannya yang sama-sama mengarah ke Kebun Jeruk untuk "melahap" penumpang sebanyak-banyaknya, yang akan dibawanya menuju Islamic, Lippo Karawaci.
Saya agak bersiap diri, semua kertas dan buku file yang tadinya saya genggam di tangan untuk belajar pagi itu, saya putuskan untuk memasukkannya ke dalam tas. Barangkali bus akan oleng atau menabrak apapun yang ada di depannya, setidaknya saya masih bisa berpegangan pada bangku di depan saya, pikir saya yang begitu di luar logika.
Mungkin ini rasa cemas yang berlebihan, tapi kalau dipikir lagi, nampaknya hal ini wajar karena sepanjang saya menumpang pada kendaraan umum seperti itu, memang sering kali supir bus ugal-ugalan menyetir demi mengejar setoran - mungkin jarang sekali mereka sempat berpikir untuk mengedepankan kenyamanan dan keselamatan penumpangnya.
Yang jelas, kami yang sudah membayar dan duduk di deretan kursi bus itu cukup siaga untuk berpegangan dan menjaga keseimbangan menyeimbangi gerak bus yang melaju kencang dan bergerak sangat 'luwes' tak beraturan itu.
Sepanjang perjalanan itu, wajah penumpang di sekitar saya cukup panik. Bus yang melaju kencang, tiba-tiba menyelip kontainer besar ke arah kirinya, kemudian kembali menancap gas, juga tidak memasang jarak aman dengan mobil sedan yang berjalan agak pelan di depannya, menekan klakson berulang kali agar mobil yang menghalanginya bergerak minggir; ulah si supir benar-benar seperti rajanya jalanan. Entah, mungkin beberapa dari kami di dalamnya hanya berdoa dalam hati, dan mungkin juga di saat-saat mencekam seperti itu kita baru dipaksa mengingat sang Khalik(?)
Entahlah...
Sepanjang perjalanan "extreme" kali itu, ada satu moment berkesan untuk saya.
Seorang kakek tua yang begitu renta, tebakan saya, mungkin seusia 65 tahun ke atas, dengan baju kemeja putih yang sangat kotor dan usang, berdiri ke tengah koridor. Tadinya saya pikir sang kakek adalah penumpang yang ingin berpindah ke kursi deretan depan, tapi ternyata, sang kakek justru hendak mengamen di koridor bus!
Awalnya, sang kakek berusaha keras berjalan sepanjang koridor dari depan sampai belakang bus untuk menyodorkan amplop kecil ke penumpang, dengan harapan diisi dengan recehan seikhlasnya.
Amplop itu bertuliskan (seingat saya) : "assalam'mualaikum wr wb. saya mengamen untuk menambah ongkos pulang ke kampung di Solo. Mohon bantuan bapak/ibu. "
Dengan tubuhnya yang kecil dan lemah, kakek ini gemetar menyusuri koridor bus dengan berupaya keras berpegangan di kedua sisi tempat duduk, salah satunya pada senderan kursi saya.
Iba, dan merasa begitu guilty feeling; ingin rasanya berkata ke sang kakek untuk berhenti saja, kalaupun memberi sejumlah uang, pastilah penumpang bus itu rela.
Dengan kondisi supir bus yang masih menyetir ugal-ugalan, sang kakek hanya berusaha keras berdiri di koridor tengah bus, entah apa yang diucapkannya, suranya sayup-sayup terdengar. Jelas, tubuhnya saja sudah renta, ditambah tenaga yang harus dikeluarkannya untuk berdiri di tengah laju bus yang kencang tak beraturan, masih kuat berbicara saja benar-benar usaha yang keras. Siapapun yang melihat sang kakek pagi itu seharusnya sadar kalau ada seorang tua yang "butuh pertolongan", bukan sekedar "minta recehan sisa".
Entah dimana sang kakek ini sekarang, barang kali sudah hampir satu bulan saya tidak bertemu lagi dengannya. Saya masih berharap sang kakek benar-benar sudah pulang ke kampungnya, setidaknya ada keluarga yang merawatnya di hari tuanya itu, bukan lagi menempa diri dalam kerasnya kehidupan.
***
Well, singkat cerita, saya dan rombongan penumpang bus hari itu masih selamat tiba di Islamic.
Tidak kekurangan suatu apapun, malah buat saya, bertambah satu pengalaman lagi.
Yang meskipun dinilai sangat remeh, sangat sepeleh,
tapi buat saya, it's another experience in life.
I am blessed.
Satu kalimat yang bukanlah sekedar saya baca atau dapatkan dari textbook perkuliahan; lebih lagi, ini tentang kehidupan, soal pilihan yang remeh namun berdampak dalam pembentukkan saya - Ini soal anugrah dan menghitung berkat.
Ini soal bersyukur dan bersyukur lagi untuk setiap hal, hebat ataupun remeh.
Ini soal pilihan - memilih rutinitas ini, bukan hal yang sebenarnya saya dambakan sebagai seorang pemudi, ini hanya soal bagaimana mengambil sikap : pilih yang nyaman tanpa derita, atau yang hiruk pikuk namun banyak cerita.
Dan bagi saya, pilihan ini patut disyukuri, karena meski terkadang lelah, tapi disanalah saya banyak belajar lagi, soal kehidupan. Thank God.
Pertemanan ...
Satu frasa yang cukup sulit untuk dijabarkan.
Ini soal pertalian, ini soal perasaan, ini soal pengalaman...
Ini tentang berjalan bersama-sama.
Bukan bicara soal matematika ataupun ekonomi.
Bukan menambah atau mengurangi,
apalagi bicara untung-rugi.
Juga bukan hal kedokteran atau farmasi,
yang ketika dilukai, nantinya berharap diobati.
Janganlah menyebutnya ilmu komputer atau teknik industri,
yang bisa di-setting begitu brilian tapi gunanya hanya mengekstensi kerja manusia.
Ekstensi, kadang kita sebut "penolong".
Tapi bahayanya, kalau sudah tidak butuh, dengan mudah kita lupakan!
Oh, apalagi dikaitkan dengan ilmu politik.
Winston Churchill pernah berkata :
"There are no permanent enemies and no permanent friends, only permanent interests."
Pertemanan itu...
Mungkin ibarat seni..
Seniman boleh saja bangga ketika pertemanan bisa dideskripsikan lewat karya mereka.
Tapi kumohon, lukislah itu sebagai lukisan yang realistik dan indah, bukan abstraksi.
Karena pertemanan bisa jadi seperti gambar yang kelihatan begitu hidup,
tapi bisa juga menjadi gambar yang semeraut absurdnya.
Atau, bisa juga menulis!
Ya, mungkin menulis..
Karena di dalamnya kita bisa bercerita tentang perjalanan bersama.
Tapi, tuliskanlah cerita itu dengan sepenuh hati, dengan mengalir lepas.
Jangan menulis seperti para birokrat, yang demi menampilkan keindahan kata-kata,
mereka sering menghapus kesederhanaan cerita dan diganti dengan kekakuan tata bahasa.
Mungkin, pertemanan itu ada di segala ilmu..
Hanya saja, banyak yang salah mengintepretasikan dalam hidupnya.
Padahal, sederhananya,
pertemanan bicara soal mengukir tulisan di atas batu.
Batu itu bicara hati, dan tulisan itu bicara nama-nama yang terukir.
Kadang tidak terlalu indah, tapi kadang juga ada yang begitu mempesona.
Kadang penuh sensasi, sering kali juga pahatannya menyakitkan hati.
Tapi,
hati kita rela dengan segala konsekuensinya itu.
Karena ketika kita memutuskan untuk berteman,
saat itu kita memutuskan untuk memberi tempat.
Memberi ruang bagi nama-nama mereka,
untuk terukir di dalam hati kita.
Yang, meskipun memberi suka ataupun luka,
mereka punya makna masing-masing dalam hidup kita.
Satu kalimat dari seorang guru SMA,
yang terus teringat di benak ini.
"Berteman itu soal meninggalkan jejak kaki di hati orang lain."
Selama kita belum bisa memberikan ketulusan di dalamnya,
selama mereka belum meninggalkan jejak,
atau menorehkan rasa di hati,
mungkin kita masih "berdagang".
Mungkin kita sekedar memanfaatkan, extreme-nya, munafik!
Jelas, belum pantas kita me-labelnya seharga pertemanan.
Karena berteman itu,
soal kepercayaan, ketulusan dan penghargaan.
Berteman itu,
Soal hari ini mengenal, dan akan seterusnya begitu.
Senin, 26 Maret 2012
Cover Both-Side
Malam ini memang diliputi isu hangat soal aksi demonstrasi besar yang akan terkonsentrasi di Jakarta. Ada yang pro, tak sedikit juga yang kontra. Posisi saya di sini hanya berpendapat, kalau-kalau aspirasi saya yang masih belajar di perguruan tinggi ini boleh disebut aspirasi rakyat.
Jadi begini, saya cukup dilematis menuliskan opini saya ini, tapi untuk sekedar mengajak siapapun untuk berpikir lebih luas, saya mencoba menuliskannya.
Intinya, besok akan ada aksi demo besar-besaran yang merupakan gabungan dari mahasiswa, organisasi massa, dan mungkin masyarakat. Hawanya mulai memanas, terlebih lagi teknologi internet yang memungkinkan beredarnya isu-isu yang cenderung sulit dipertanggung-jawabkan.
Saya, sekali lagi, sebagai pelajar, hanya ingin mengajak teman-teman berpikir lebih luas saja.
Aksi massa yang digelar dalam demo-demo menentang kenaikan harga bbm bukannya tanpa alasan. Secara sederhana, ini adalah protes dari masyarakat terhadap para elit politik pemangku kebijakan untuk mau peduli terhadap nasib rakyat secara umum, toh yang namanya kebijakan berarti suatu hal yang diambil untuk kesejahteraan masyarakat luas, bukannya menekan rakyat menjadi semakin terjatuh. Masyarakat ini manusia, punya hati nurani, dan punya jerih lelah dalam upaya mencukupi hidupnya. Rute sederhana jika harga bbm naik, berarti dampak langsungnya pada kenaikan harga transportasi yang notabene melayani semua segi pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Singkatnya, kalau harga bbm naik, efek dominonya adalah kenaikan harga seluruh bahan kebutuhan hidup masyarakat, yang dalam istilah ekonominya, terjadi inflasi. Efeknya, secara khusus bagi kelas menengah ke bawah bukanlah hal yang kecil. Harga yang naik 1500 per liter bisa diakumulasi menjadi jutaan rupiah per bulan yang harus disiapkan masyarakat demi terus memenuhi kebutuhan dasarnya. Jadi intinya, demo yang dilakukan jelang kenaikan harga bbm ini memang make sense / dalam skala wajar.
Menanggapi banyak keluhan kontra demonstrasi ini, seperti ejekan 'cuma 1500 aja heboh, tapi beli rokok harga seribuan bisa..', atau sindiran 'kalau gak bisa beli bbm yah jalan kaki aja lebih sehat tanpa polusi...'
Yah, buat saya, itu memang hak orang-perorangan dalam beropini, tidak ada salah benar di sini. tapi mungkin, bisa dinilai dari sisi komunikasi yang digunakan tidaklah tepat waktu dan terarah sasarannya. Komunikasi macam ini muncul dari kelompok masyarakat yang mungkin tidak terlalu terusik dengan kenaikan harga 1500 per liter lantaran masih bisa dijangkau oleh mereka. Opini ini juga mungkin muncul sebagai bentuk keresahan publik akibat masa lalu yang kelam di kala runtuhnya rezim orde baru yang menimbulkan kerusuhan besar-besaran dan mematikan aspek kehidupan masyarakat dalam jangka waktu yang cukup menggetarkan. mungkin masih berbekas mendalam trauma soal kerusuhan Mei 1998 yang sekilas kelihatannya akibat demo besar-besaran mahasiwa dalam menggulingkan pemerintahan korup, padahal di dalamnya terdapat 'penyusup' yang memanfaatkan situasi yang genting. Hanya itu, hanya itu saja yang ditakutkan terulang lagi menjelang demo di esok hari.
Tapi, sekedar mengajak untuk menilai dari dua sisi dengan lebih komprehensif, kita tidak bisa mengadili kumpulan massa demonstran mahasiswa sebagai kumpulan orang-orang kurang kerjaan atau sekedar 'cari muka'. Bukti nyatanya, kumpulan semacam ini di Mei 1998 berhasil melahirkan reformasi bangsa dari kediktatoran seorang presiden otoriter menuju Indonesia yang demokratis. Kalau bukan kekuatan massa seperti itu, kita mungkin masih hidup dalam 'kegelapan' cara pandang anak bangsa yang masih terlelap dalam kebodohan paradigma lama.
meskipun konteksnya berbeda untuk aksi demo besok, tapi yang seharusnya kita jalankan sebagai masyarakat adalah memberi ruang, khususnya bagi pendemo, yang secara representatif mewakili kepentingan golongan menengah ke bawah (terlepas apakah itu termasuk diri mereka atau tidak, karena saya yakin masih ada beberapa anak pejabat atau pengusaha yang ikut terjun di dalam demo). dan juga bagi pendemo itu sendiri, seharusnya memberi ruang bagi masyarakat lain dalam mendapat hak mereka dalam menjalankan aktifitas sehari-hari tanpa gangguan (macet, apalagi rusuh). Demonstran harus tahu dengan jelas hak mereka dalam demonstrasi dijamin konstitusi, namun jika mereka melanggar batas-batasnya, ada ranah penegakan hukum yang punya kendali, termasuk di dalamnya aparat polisi yang dikerahkan bertindak preventif.
Jadi, intinya, mari teman-teman, kita berpikir luas tentang aspek-aspek kepentingan setiap kelompok yang terkena dampak dari kenaikan harga bbm ini. Toh, aksi demo itu mungkin bisa menjadi sekedar orasi, yang syukur-syukur mengubah narasi para elit politik perihal menaikkan harga, dan harus kita sikapi dengan lebih bijak sehingga jalannya aksi juga di dalam batas kewajaran dan kepantasan yang mencerminkan mahasiswa sebagai generasi cerdas yang mewarisi bangsa ini nantinya.
Pesannya, tolong usung aksi demonstrasi yang damai dan konstruktif, tanpa cela bagi penyusup benih perpecahan NKRI.
say no to divorce. live in peace everyone.
Yang muda yang beraksi!
good luck to demonstrans.
Jadi begini, saya cukup dilematis menuliskan opini saya ini, tapi untuk sekedar mengajak siapapun untuk berpikir lebih luas, saya mencoba menuliskannya.
Intinya, besok akan ada aksi demo besar-besaran yang merupakan gabungan dari mahasiswa, organisasi massa, dan mungkin masyarakat. Hawanya mulai memanas, terlebih lagi teknologi internet yang memungkinkan beredarnya isu-isu yang cenderung sulit dipertanggung-jawabkan.
Saya, sekali lagi, sebagai pelajar, hanya ingin mengajak teman-teman berpikir lebih luas saja.
Aksi massa yang digelar dalam demo-demo menentang kenaikan harga bbm bukannya tanpa alasan. Secara sederhana, ini adalah protes dari masyarakat terhadap para elit politik pemangku kebijakan untuk mau peduli terhadap nasib rakyat secara umum, toh yang namanya kebijakan berarti suatu hal yang diambil untuk kesejahteraan masyarakat luas, bukannya menekan rakyat menjadi semakin terjatuh. Masyarakat ini manusia, punya hati nurani, dan punya jerih lelah dalam upaya mencukupi hidupnya. Rute sederhana jika harga bbm naik, berarti dampak langsungnya pada kenaikan harga transportasi yang notabene melayani semua segi pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Singkatnya, kalau harga bbm naik, efek dominonya adalah kenaikan harga seluruh bahan kebutuhan hidup masyarakat, yang dalam istilah ekonominya, terjadi inflasi. Efeknya, secara khusus bagi kelas menengah ke bawah bukanlah hal yang kecil. Harga yang naik 1500 per liter bisa diakumulasi menjadi jutaan rupiah per bulan yang harus disiapkan masyarakat demi terus memenuhi kebutuhan dasarnya. Jadi intinya, demo yang dilakukan jelang kenaikan harga bbm ini memang make sense / dalam skala wajar.
Menanggapi banyak keluhan kontra demonstrasi ini, seperti ejekan 'cuma 1500 aja heboh, tapi beli rokok harga seribuan bisa..', atau sindiran 'kalau gak bisa beli bbm yah jalan kaki aja lebih sehat tanpa polusi...'
Yah, buat saya, itu memang hak orang-perorangan dalam beropini, tidak ada salah benar di sini. tapi mungkin, bisa dinilai dari sisi komunikasi yang digunakan tidaklah tepat waktu dan terarah sasarannya. Komunikasi macam ini muncul dari kelompok masyarakat yang mungkin tidak terlalu terusik dengan kenaikan harga 1500 per liter lantaran masih bisa dijangkau oleh mereka. Opini ini juga mungkin muncul sebagai bentuk keresahan publik akibat masa lalu yang kelam di kala runtuhnya rezim orde baru yang menimbulkan kerusuhan besar-besaran dan mematikan aspek kehidupan masyarakat dalam jangka waktu yang cukup menggetarkan. mungkin masih berbekas mendalam trauma soal kerusuhan Mei 1998 yang sekilas kelihatannya akibat demo besar-besaran mahasiwa dalam menggulingkan pemerintahan korup, padahal di dalamnya terdapat 'penyusup' yang memanfaatkan situasi yang genting. Hanya itu, hanya itu saja yang ditakutkan terulang lagi menjelang demo di esok hari.
Tapi, sekedar mengajak untuk menilai dari dua sisi dengan lebih komprehensif, kita tidak bisa mengadili kumpulan massa demonstran mahasiswa sebagai kumpulan orang-orang kurang kerjaan atau sekedar 'cari muka'. Bukti nyatanya, kumpulan semacam ini di Mei 1998 berhasil melahirkan reformasi bangsa dari kediktatoran seorang presiden otoriter menuju Indonesia yang demokratis. Kalau bukan kekuatan massa seperti itu, kita mungkin masih hidup dalam 'kegelapan' cara pandang anak bangsa yang masih terlelap dalam kebodohan paradigma lama.
meskipun konteksnya berbeda untuk aksi demo besok, tapi yang seharusnya kita jalankan sebagai masyarakat adalah memberi ruang, khususnya bagi pendemo, yang secara representatif mewakili kepentingan golongan menengah ke bawah (terlepas apakah itu termasuk diri mereka atau tidak, karena saya yakin masih ada beberapa anak pejabat atau pengusaha yang ikut terjun di dalam demo). dan juga bagi pendemo itu sendiri, seharusnya memberi ruang bagi masyarakat lain dalam mendapat hak mereka dalam menjalankan aktifitas sehari-hari tanpa gangguan (macet, apalagi rusuh). Demonstran harus tahu dengan jelas hak mereka dalam demonstrasi dijamin konstitusi, namun jika mereka melanggar batas-batasnya, ada ranah penegakan hukum yang punya kendali, termasuk di dalamnya aparat polisi yang dikerahkan bertindak preventif.
Jadi, intinya, mari teman-teman, kita berpikir luas tentang aspek-aspek kepentingan setiap kelompok yang terkena dampak dari kenaikan harga bbm ini. Toh, aksi demo itu mungkin bisa menjadi sekedar orasi, yang syukur-syukur mengubah narasi para elit politik perihal menaikkan harga, dan harus kita sikapi dengan lebih bijak sehingga jalannya aksi juga di dalam batas kewajaran dan kepantasan yang mencerminkan mahasiswa sebagai generasi cerdas yang mewarisi bangsa ini nantinya.
Pesannya, tolong usung aksi demonstrasi yang damai dan konstruktif, tanpa cela bagi penyusup benih perpecahan NKRI.
say no to divorce. live in peace everyone.
Yang muda yang beraksi!
good luck to demonstrans.
Langganan:
Komentar (Atom)

