Rabu, 28 Desember 2011

saya tertarik banget setelah membaca harian Kompas edisi kali ini, 28 Desember 2011 - Page 38, di rubrik Klasika-nya, soal Pernikahan. Sang penulis artikel (INO), menulis sebuah ilustrasi cerita di enam paragraf awal dengan sangat indah dan apik. So, I just wanna share it via online, lets take a look.

*DISALIN TANPA PENGUBAHAN - UNTUK TUJUAN BERBAGI* 


Belajar Dari Guru Plato

"MASUKLAH ke dalam hutan, pilih dan ambil satu ranting yang menurut anda paling baik. Ingat, anda harus terus berjalan ke depan dan jangan kembali lagi. Jika sudah menentukan pilihan, keluarlah dari hutan dengan ranting tersebut."

Itulah tantangan guru Plato ketika muridnya bertanya tentang arti cinta. Saat itu Plato masuk ke hutan dan menemukan ranting yang bagus, tetapi dia berpikir di depan ada ranting yang paling baik. Ternyata, ranting yang paling baik justru yang sudah dia tinggalkan tadi. Akhirnya, Plato keluar hutan tanpa membawa apa-apa.

Guru pun menjawab itulah cinta. Kita selalu ingin mencari yang terbaik dan terindah sesuai dengan yang diharapkan. Namun, tanpa sadar justru kita tak mendapatkan apa-apa, sementara sang waktu terus berjalan.

Lalu Plato bertanya tentang makna pernikahan. Guru pun menantang Plato kembali masuk ke dalam hutan. Aturannya sama, tetapi kali ini yang harus dibawa adalah satu pohon yang dianggap paling baik.

Masuklah Plato ke dalam hutan dan keluar dengan membawa pohon yang tak terlalu indah. Plato mengaku sebenarnya menemukan pohon yang indah, tetapi sulit memotongnya. Namun, dia memilih pohon sederhana yang masih mampu dibawa keluar. Dia memilih pohon tersebut karena yakin mampu merawat dan menjadikannya indah.

Lalu, guru pun menjawab, itulah makna pernikahan. Begitu banyak pilihan di depan, tetapi kita mesti menentukan satu pilihan. Terkadang sulit untuk menentukan, tetapi pilihan harus tetap dibuat.
"Look! Who is finally up !!!"

ada nini, bumbum, gue, syl, feli, prisca...
cisyong, dundun, sus, depi, peggy, surya....

ini hajatan ultahnya Surya yang sebenarnya sudah terlewat sejak bulan September lalu, tapi dia bela-belain nabung untuk bikin acara ngumpul begini, jadilah kita BBQ-an tanggal 28 Desember 2011, selang 100 hari booo dari ultah dia *hiks, terharu*... tapi yah beginilah makhluk-makhluk yang akhirnya sampai di rumah surya.. *selain beberapa yang gak bisa hadir, seperti lala..* :D

Anyway...
gak terasa, udah nyaris dua tahun kita semua lulus SMA, masuk kuliah yang katanya mengejar cita-cita lebih spesifik, dan jadi terpisah-pisah kampus atau jurusan kuliah satu sama lain... *tapi kalau ada universitas Pusaka Abadi, mungkin sampe bangkotan gue pada satu hati bakal betah buat lanjut kuliah di situ, hahaha...*
Dulu, kita pasti sering bangga2an sekaligus jelek2in almamater tercinta, PUSAKA ABADI, lengkap dengan guru-guru dan fasilitasnya...
dan sekarang, waktu kita ngumpul bareng lagi, jelas saja secara implisit, bahasa kita jadi gak nyambung lagi, masing-masing bangga dengan institusinya sendiri...
saya di PR, situ hotel.. dia akun, mereka TI.. nanti dokter gigi, nanti IT atau SI.. atau bahkan udah buka usaha sendiri...
Istilah-istilah kita, topik kita, candaan kita, semuanya susah untuk nyambung lagi..*and then, sering jadi diem sendiri, sok sibuk dengan bb-nya, cari lawakan segar, lalalalala....*


Dan di tengah acara manggang-manggang, saat semua sibuk melahap hidangan di ruang dalam, tinggal gue en niki yang ganti shift buat bakar sate ayam di teras depan..
I told her, "when we meet up each other, our topic is so different huh.. do you feel kinda awkward to start the conversation?"
Niki simply replied me "yah itu pinter-pinter lu aja ngebawa suasana, nikmatin aja,ling, susah kan buat ngumpul begini"...

yeahh..
she's totally right...
I just feel that gather together with high school friends is such a precious moment now, since we are separated by college life.
people can say "you are LEBAY" or... whatever...
yet I feel it's a bliss..

I don't know how long we'll remember each other like today, keep connected like this; there are many years forward we'll step..

I hope, whether in happiness or sorrow, we keep caring to each other..
although, people say that someday we exactly will be away from each other because of our routinity, our works, i'm still hoping that our togetherness keeps move forward, as today.

Why do I get my hopes up like this?

because having you all in my life, whatever you suppose and think about me, is just adding the beautiful colour in my life.

lastly, it seems so stupid to say : "Love you, guys..."
yet, I do.

Sabtu, 24 Desember 2011

Christmas - Isn't just a yearly celebration


Bagi umat dan wisatawan rohani di Vatikan, natal di Basilika Santo Petrus mungkin punya kesan tersendiri; Datang dan disambut dengan pohon natal besar yang tegak berdiri di alun-alun luar, tahun ini persembahan dari hutan bagian barat propinsi Transcarpathia, Ukraina.

Dengan khotbah yang secara langsung dipimpin oleh Paus Benediktus XVI : "Urbi et Orbi" yang artinya "Untuk Kota dan Dunia", Paus menyerukan kepada orang-orang yang beriman agar melihat ke depan melampui perayaan gemerlapan yang dangkal, untuk menemukan arti yang sejati.
Juga bersama ribuan orang yang beribadah pada malam natal, mereka menyanyikan lagu-lagu natal dengan nada penuh sukacita; gita-gita natal yang sudah bertahan ratusan tahun sampai hari ini.

Sungguh suasana natal yang khidmat, penuh kedamaian, dan bersuka cita.
Full of christmas decoration, Christmas choir, candle light service...


***

Di lain pihak, di hari yang sama...
Bertolak belakang dengan Jemaat GKI Yasmin, Bogor, yang tidak bisa merayakan natal di gerejanya sendiri yang sah. Tahun ini, tanpa misa malam natal, dan perayaan hari natal diperintah oleh Pemkot untuk menempati gedung sewaan, diusir dari gereja sendiri. Rasanya penuh ancaman, kecaman, tekanan, dan mungkin ketakutan. Bukan lagi sibuk dengan dekorasi dinding gereja, bukan lagi persiapan dan latihan koor atau drama natal; hanya doa bersama menanti keadilan, doa bersama untuk merayakan natal sederhana di gereja mereka sendiri...













I'm showing contrast between this two, not for provoking anyone... it's just because :

Karena mungkin tahun ini kita bersama-sama punya perayaan natal gereja yang indah seperti Vatikan...
Dan mungkin masih banyak Yasmin-Yasmin lain di belahan dunia manapun yang bergumul dengan penentangan...

Karena mungkin tahun ini kita masih diberi kesempatan beribadah dengan tenang seperti di Vatikan...
Dan mungkin tahun besok (bisa jadi) seperti Yasmin...

Karena mungkin tahun ini kita masih bisa merayakan natal dengan segala kecukupan..
Dan (mungkin) tidak lagi untuk tahun esok...

Karena mungkin tahun ini kita masih ada...
Dan esok, tiada..

Bagaimana kita memaknai Natal? Sekedar perayaan megah? Hanya moment tahunan? Hari yang sekedar terlewat tanpa arti lagi?

Lets realize that Christmas isn't just a yearly celebration.

Karena Kasih Sejati telah datang ke dalam dunia, maka kita dimampukan mengasihi sesama manusia.

Merry Christmas everyone.

Jumat, 23 Desember 2011

Ngamen, Ngamen, dan Ngamen...



Bus kota, always be like this, selalu dihantar oleh pengamen jalanan sepanjang rutenya.

Mulai dari pengamen cilik, pemuda, bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-kakek, semuanya...

Dan yang namanya bus umum di Jakarta, lets say “HARI GINI ???”, lebih baik ikhlasin gopek-gopek di dompet lah ketimbang dipalak atau dijahati dengan berbagai cara yang gak terpikirkan lagi.


Ya, sama seperti hari-hari biasanya, saat saya berangkat dan pulang ngampus, selalu ada saja beraneka suara terdengar di koridor bus kota, agak ke belakang kedengarannya, karena saya kebanyakan duduk di kursi-kursi depan.


Mari mulai dari yang selalu teringat...:D

Ada bapak bergitar merah dengan ciri khas-nya yang selalu menyanyikan lagu gereja. Ketika mencapai nada-nada tinggi, suaranya gak lebih bagus dari orang ngeden.! Malahan, sering kali suaranya bisa hilang karena sangking tinggi nada yang gak bisa dinyanyikan (cuma mikir, kenapa gak diturunin 1 kunci siiiih paaaaaaak nadanya...).. Yah, tapi itulah keunikan dari si bapak bersuara maksa ini, dirasa lebih seksi kali yah suara tingginya..


Ada lagi ibu-ibu yang selalu membawa anak dan kecrekan, nyanyi dangdut dengan cengkok-cengkok suara yang gak karuan; ditambah lagi anak-anaknya juga ikutan nyanyi dengan berteriak, karena suara mesin bus saat melaju kencang, terdengar bising. Dan lebih ngenes lagi, itu anak-anaknya menyebar sepanjang koridor; pernah sekali, anak paling kecilnya teriak pas ngarah ke telinga saya, nusuk sampai ke gendang telinga, entah harus gimana selain menutup kuping sebelah dengan tangan.
Apalagi kalau lagi naik bus di siang bolong dengan terik matahari yang membakar, ditemani nyanyian mereka. Serasa ingin mengikhlaskan uang lima ribuan dan meminta mereka seketika itu juga berenti dari nyanyian sumbangnya, ketimbang penumpang harus kesakitan nahan pusing dan emosi jiwa – tapi balik lagi, ini kendaraan umum – bus kota - untuk siapa saja tanpa ada pembedaan status.


Ada lagi pemuda yang setiap nyanyi, suaranya terdengar seperti orang mabok atau preman yang gak pernah mau usaha untuk hidup; bahasa lembutnya mungkin : pemalas.

Tapi dia cukup kreatif, menyanyikan lagu yang dibikin sendiri; saya gak hafal semuanya, tapi yang nyantol di kepala kira-kira lirik belakangnya begini :
Saya disini cuma ngamen om... Buat makan buat bayar kontrakan..
Bagi yang pelajar, pasti punya uang tabungan.. bagi yang karyawan, punya uang gajian..
Kalau gak ada ribuannya, ya beri gopek-an.. kalau gak ada gopek-an, ya beri recehan.. kalau gak ada recehan, angkat tangan bilang maaf, ya beri senyuman.. jangan pura-pura ketiduran om *nanti bisa tidur beneran*.. jangan pura-pura baca koran mas *maaf ya bu, pak, yang lagi baca koran*...

Agak menyebalkan yah pengamen yang tipe begini.. tapi sekaligus yang cukup "mengancam" kalau kita nekad tidak memberi recehan...

Oh iya, juga sempat sekali, ada bapak-bapak yang sudah cukup renta, mungkin 60-65 tahunan, yang harusnya sudah menikmati hari tuanya, tapi masih harus ngamen dengan mic dan speaker kecil, kedengarannya lagu-lagu lawas. Tiba-tiba, speakernya digelantungin  di pegangan koridor tepat di atas tempat duduk saya – kalau bus tiba-tiba ngerem, dan amit-amitnya itu speaker jatuh kena kepala saya... engga kebayang deh si bapak punya asuransi jiwa untuk penumpang yang lagi dengerin ngamennya atau engga *ya mana mungkin juga kan...* Alhasil, saya langsung buru-buru pindah tempat duduk, daripada ketimpa speaker.

Ada juga yah yang ngamen, tapi dia gagu. Kebayang gak gimana dia ngamen? Makanya naik bus kota, hehehe.. jadi kira-kira, suaranya kayak meringkuh, gak ada vokal yang jelas terucap sama sekali, cuma suara ringkuhan dan kecrekannya saja yang terdengar. Ah, benar-benar yang seperti ini kadang bikin hati lirih...


Pernah juga anak kecil ngamen, sendirian, masih pagi jam setengah 7, pas saya berangkat ngampus.
Suaranya baguuuuuuuus banget...!
Saya sih langsung ngasih gopek dengan ikhlas, tapi sembari kepikir, apakah dunia adil?
Bahkan saya yang sudah dikuliahin dengan biaya besar, masih sempet-sempetnya males masuk kuliah hari itu – while – anak ini, pagi-pagi aja sudah harus cari koin untuk sekedar bisa isi perutnya. *what a pity, myself* (ada ceritanya di tulisan saya : http://suvi-writingforliving.blogspot.com/2011/10/koin-koin-kecil.html)

Juga tadi pagi, sudah beberapa hari sih telinga saya mendengar ada suara yang bagus dari seorang pemuda, yang saya perhatiin, dia tinggi dan agak gembul, tapi suaranya bagus banget.. kalau yang begini, pengen deh ngomong “mas, coba ikut Indonesian Idol deh, siapa tahu ada kesempatan...”

Pernah ada juga pengamen yang (beneran) gak punya kaki, jadi naik dan turun bus saja susah. Cara ngamennya, dia kalungin speaker kecil tergantung agak berat di lehernya, dan menyeret-nyeret pinggulnya sepanjang koridor bus untuk berjalan ke depan. kita yang duduk di bus, langsung ibah dengan kondisinya, apalagi pas nyanyi, speakernya pakai acara rusak, harus digetok-getok dulu. Terus, yang saya tahu, koridor bus itu kan panas, kaki kita yang pakai sepatu aja kalau berpijak masih terasa panas, apalagi pinggul pengamen itu, tanpa alas apapun. Setelah mengamen, pinggulnya itu harus bergesekan lagi dengan koridor bus dari depan sampai belakang untuk ngumpulin recehan, sembari tangannya harus terangkat tinggi ke atas, karena posisi pengamen ini yah di bawah penumpang yang duduk. That life really is, dude!

Yah, masih banyak lagi cerita tentang mereka, dan nyanyiannya; dari yang menyenangkan sampai yang cukup “menyakitkan” telinga; saya anggap itu semua sebagai hiburan di tengah keruwetan hidup orang-orang kota.

Cuma, yang mau saya share hari ini: baru sadar kalau budaya mendengar dan menikmati moment seperti ini tuh udah mulai jarang di lingkungan kita yang serba modern, trendi, gengsi, individualis, dan konsumeris.
Zaman sekarang, kebanyakan orang cuma mau mendengar lewat mata, bukan lagi mendengar lewat telinga – apalagi hati -

Jumat, 09 Desember 2011

(mungkin) melebihi apapun ...

As usual, Patas 157 brings my way home.
Sore ini, secara kebetulan, duduk ditengah dua ibu-ibu berjilbab.
Yang satu sibuk ber-sms ria; sedangkan yang satu lagi baru saja naik dan duduk di sebelah kiri saya. Tak lama ia duduk, teleponnya berdering. “Iya Abah, ini Rum...”, jawabnya dengan sedikit berteriak, lantaran suara mesin dari bus yang melaju cukup kencang, terdengar bising di telinga.
 
Saya sempat melongo, lantaran ibu ini semakin kencang berteriak di telepon, sambil handphonenya diarahkan ke mulut ketika berbicara, kemudian diarahkan lagi ke telinganya untuk mendengar, layaknya pager zaman dulu. “Yaudah, maklumin aja”, pikir saya.
Karena bengong selama perjalanan tadi, saya sambil mendengarkan saja pembicaraan telepon ibu itu.

“Bah, iya ini Rum. Rum lagi di Tangerang sekarang, abis ke rumah bu Ratna bayar hutang dua ratus ribu”, sambil si ibu ini sibuk membolak-balik handphonenya persis penggunaan pager polisi. “Aduh bu, agak heboh yah teleponannya, hehehe”, gelitik tawa di hati saya, awalnya.

“Rum udah kerja di panti, urusin orang-orang tua.. Harus siap 24 jam, Bah, capek.. Tapi 10 hari Rum dapet 560 ribu, terus tadi langsung bayar utang ke bu Ratna 200... ini sisanya Rum entar kirim ke Abah yah 150, 150 lagi Rum buat ongkos sama makan di Jakarta”.
(Saya tetap stay cool dan mulai tertarik untuk sekilas mendengarkan, meski ada beberapa kali suara keras si ibu memekik telinga saya).
 “Ini Rum lagi di jalan mau ke Kota, ada tawaran lagi, Bah. Dua jutaan kata bu Ratna, entar ketemu dulu sama majikannya. Urus orang tua juga, udah lumpuh 6 tahun katanya.”

Kemudian, suara si Abah di telepon sekilas terdengar jelas di telinga kiri saya, kira-kira begini “ Ya syukur, masih bisa sholat? Jangan sampe lupa ya”.
“Iya, Bah. Rum mah sebisa mungkin lima waktu, mau gimana kerjaan Rum usahakan tetep sholat. Buat apa duit gaji banyak-banyak tapi gak bisa sholat, Rum gak mau, lebih baik Rum cari kerjaan lain asalkan bisa tetap lima waktu. Iya, Rum nanti gak bawa banyak baju lagi soalnya cuma pake baju rawat sama mukenah aja, Bah.. Ini telepon bukan punya Rum, ini dipinjemin, Bah. Nanti kapan Rum bakal telepon lagi, tapi Abah jangan telepon ke sini, ini punya temen Rum di Tangerang. Rum kapan-kapan kabarin Abah lagi........... ”

Dan pembicaraan mereka pun berakhir singkat, tapi seakan sudah cukup memberi pelajaran lagi buat saya hari ini; Tentang hidup yang mungkin sulit, tapi prinsip hidup itu tetap teguh dipegang! Tentang pekerjaan yang mungkin terlihat remeh, tapi nyatanya penuh dedikasi dan kesabaran. Tentang iman yang mengalahkan ambisi duniawi soal uang, uang, dan hanya berkutat pada uang! Dan tentang ibu bermukenah ini, yang masih terus berdekat mencari Sang Pemilik Hidupnya, (mungkin) melebihi apapun...