Jumat, 25 November 2011

Campus Projects ...

DEADLINE !!!

Kata mematikan yang sangat familiar, terutama di kalangan mahasiswa sampai profesional sekalipun.

DEAD-line, seakan hal yang benar-benar seperti arti harafiahnya, MEMATIKAN!

dead-LINE juga memberi siratan arti tentang garis akhir yang harus kita capai, ibarat atlet lari estafet, ada garis finish yang harus dicapai dalam tempo yang cepat.

Apapun itu bentuknya, deadline biasanya identik dengan “siksaan”. Waktu dan otak kita seakan diperas sedemikian rupa untuk mencapai deadline yang ditentukan.
****

Tapi, di semester ini saya mendapatkan DEADLINE yang tidak kelihatan menyiksa atau membosankan seperti paper-paper kuliahan pada umumnya;  deadline yang justru menyenangkan untuk saya.

Januari besok, sebelum UAS semester 3, saya dan kawan-kawan harus mengumpulkan *sejauh ini* tiga deadline besar & menarik : Proyek novel-individu, majalah-kelompok, dan proposal event CSR-kelompok. 

Kesemuanya ini bukan hanya sekedar mengerjakan kontennya saja seperti tugas anak Ilkom biasanya, tapi kami diberi keleluasaan yang sangat luas mulai dari content sampai membuat packaging akhir semenarik mungkin. So, ini baru benar-benar namanya BERKARYA!

I dunno but... it seems great yah! Im going to challage my self, squeeze my limitation, and create another creations based on creativity for these DEADLINE.

And HEYYY!!! At least, im starting to love this major so much! Communication Science... :)))

Rabu, 23 November 2011

There Is Something More Important than "Cigarette" ...



( Bus driver, isn't always talking about their styles and their cigarettes... I found another value yesterday. read it out :D )



On my way home that afternoon, I sat on the very first row in the bus, behind the bus driver.
I saw the bus driver was so tired driving the bus from Jakarta to Tangerang over and over again, otherwise, he does it everyday as his job. (I really appreciate it).

*****


It was near Grogol, Jakarta. He stopped the bus because of the traffic light turned to red.

I found that he was waiting for the light to turn to green light again, and he just stared at an English-Indonesian dictionary which he’s just bought. 

He tried to read what is written on its cover, slowly but seriously...

I don't know, but I found that it's too hard for him to read all the sentences. Eventhough it all is written in Bahasa..

and I just thought that he didn't buy
it for himself. I thought he would give that dictionary for his child, of course, to be learned by his child...

and you know, it was so touching for me...


A bus driver... still has consciousness about something important in life...

It's neither about money, nor about cigarettes..
more important, it's about EDUCATION.
*****

And for his child, you know, how lucky you are...
Although your father is just a bus driver, but he tries to "drive" your life to reach a better future...
with all his hopes and efforts...

Be grateful, kid(s)...

Senin, 21 November 2011

Kita  ...

Bagai embun pagi membasah,
yang membentuk titik-titik air...

Embun mengenal siapa dirinya yang begitu rapuh..
Tau, harus menjadi apa dia kelak..
Titik air pun tak lupa diri..
Sadar, tanpa embun, ia tak mungkin jadi..

Mereka... Tanpa suara...
hanya mengisi satu sama lain...
Saling mengenal,
dan dikenal...
Karena seperti itulah embun dikenal sejadi titik air...
Dan titik air pun mengenal siapa embunnya...


Kamis, 17 November 2011

KM - 5 .... STUCK!

 


Kemarin  ...
Nov 16, 2011 -- Islamic.

Transit dari angkot kuning strip biru masuk ke dalam bus Patas 157 jurusan Cimone-Senen...

Seperti biasanya, sambil menahan kantuk dan lapar sepanjang perjalanan pulang kampus dan kebetulan sendirian. Seorang teman sudah pulang duluan, tidak sempat janjian pulang bareng.

Well ...
Masuk bus, duduk di deret kedua dari depan, di sebelah seorang ibu yang cukup gemuk dan beraut agak sangar, saya cuma bilang “misi ya” untuk duduk di kursi satunya. And then, MENUNGGU.
***

Si “Supir klimis” di siang menjelang sore itu agaknya benar-benar memancing emosi para penumpang. Sudah setengah jam bus dibiarkan “ngetem” tanpa bergerak, dalam kondisi stuck tanpa AC dan disinari terik matahari dari sudut barat, tepat di sisi kanan bus. Cukup menyiksa.

Saya sebenarnya benci dengan kebiasaan “ngetem” ala supir-supir bus yang terkadang tidak mengenal waktu. Mereka malah asik menikmati batangan rokoknya sembari memanggil-manggil pejalan kaki agar naik dan memenuhi bus. Memang sih, itulah resiko yang harus ditanggung jika menumpang di kendaraan umum (baca : angkutan bersama), jadi bersabar-sabarlah yah...
***

Dalam keadaan agak kesal menunggu, sambil sesekali memperhatikan sekeliling, tiba-tiba sempat terbesit dalam benak saya, “Kenapa rasanya flat banget yah perjalanan di bus hari-hari belakangan ini? Gak ada hal baru yang "agak extreme" gitu buat nambah pengalaman, buat diceritain di blog...”

(Bus pun melaju kencang menuju Jakarta tanpa hambatan.....Tiba di rumah, istirahat, dan persiapan untuk ujian besok...)
***

Dan rasanya, pertanyaan sombong tadi langsung terjawab di esok harinya.
*******



Nov 17, 2011 -- Jakarta.

Ini pagi yang “seharusnya” menyenangkan, hari terakhir ujian tengah semester... EURIKAAAAAAAAAA!!!!!
***

Naik ke dalam bus dari depan kampus Untar, dan lagi-lagi Patas 157.
Rencananya saya ingin melanjutkan rancangan schedule di otak untuk closing uts hari ini bersama teman-teman.

Mengambil tempat paling depan tepat di belakang supir, ini adalah cara yang saya pikir cukup ampuh untuk sekedar melindungi diri dari tindak kejahatan, meskipun hal itu bisa saja terjadi dimanapun. Sekali anda mengeluarkan dompet, memakai benda/perhiasan berharga, apalagi bermain HP atau blackberry sepanjang perjalanan, itu bisa saja memancing perhatian mata-mata jahat untuk mengincar anda. Saya berusaha untuk tidak melakukan hal-hal tadi.
***

Tak disangka, pagi ini bertemu lagi dengan si  “supir klimis” kemarin, abang-abang tukang “ngetem” yang cukup membelokkan mood saya.
“Brep (duduk)...  Yaelah, si abang lagi... Hufff... Oke, lets waste 20 more minutes until he drives this bus, just stay calm, Ling”, cuma itu yang ada di pikiran saya. Benar saja, sekitar 15 menit-an itu, bus baru dijalankan lagi oleh si supir, dan saya pikir masih ada cukup waktu untuk tiba di kampus.
***

Baru mulai menanjak jembatan layang di seberang mall Taman Anggek memasuki tol Jakarta-Tangerang, belum terlalu jauh dari Untar, saya menemukan adanya antrian kendaraan yang tidak biasa terjadi. Seharusnya, jalan tol Jakarta menuju Tangerang masih lengang dan sebaliknya arah Tangerang menuju Jakarta yang dipastikan macet total. Tapi hari ini, keduanya STUCK!

Si “kenek berkumis” bilang ke “supir klimis” kalau ada kecelakaan di depan sana, entah di kilometer berapa. Saya yang tepat di belakang mereka langsung berpikir “Tenang, tenang... masih ada satu jam lagi sebelum ujian, gak telat lah...”

Tapi, ketenangan tadi sontak berubah menjadi kebingungan karena bus sama sekali tidak bergerak untuk beberapa menit pertama. Kali ini, bukan stuck karena ulah si "supir klimis" itu seperti kemarin sore...

Saya yang jarang berani mengeluarkan handphone sepanjang perjalanan, akhirnya memberanikan diri ber-sms ria dengan dua orang teman yang sama-sama berangkat ke kampus dari Jakarta; yang satu berada 2 KM di depan saya, sedangkan yang satu lagi baru sampai di depan Untar. Saya sendiri masih berada di kilometer 1, dan mulai kelabakan! Puluhan sms pun hanya ungkapan kegelisahan kami bertiga, tanpa solusi...

“Lo ngampus ga suv? Mampus ini tol matot, ada kecelakaan kata tukang tahu! Gue masih di KM-3 !!!! Sampah.... Matiiiiiii.... Matiiiiiii...”, sms pertama masuk dari FC yang dua KM di depan saya.

“Serius ? Mampus gw... Gimana dong... AH! Gimana Suv... Masih stuck depan Untar nih gw, stressssssss! Bisa nyampe jem berapa cobaaaa.. mampus deh kita Suv.. Aduuuhh... Wah pasrah deh bener2 gw”, reply dari teman yang satu lagi, RA, yang malahan belum memasuki tol.

Setengah jam pertama berada di dalam bus yang jalannya tersendat-sendat, saya panik luar biasa! Saya mulai menghentak-hentakan kaki sembari mengoyak tissue di tangan. Bahkan, sampai teman dari kampus menelepon, saya menjawabnya dengan nada kesal dan hampir menangis karena kondisi masih stuck dan waktu saya tinggal setengah jam lagi, benar-benar menyebalkan!   *Kinda Hopeless*
***

Singkat cerita, ternyata kecelakaan terjadi di KM - 5, cuma gara-gara satu mobil box yang pecah ban dan merunyamkan segalanya!!
***

After that, having passed the accident ....

Bus pun bisa melaju kencang dan tepat pukul 08.00 saya baru sampai di Islamic dan langsung menaiki ojek yang ngebut menghantar saya ke kampus. 08.15 saya sampai di kampus, lari dengan tergesa-gesa menuju lift, sempat meminta minuman teman sambil cerita heboh sejenak di lift, dan  (syukurnya) masih diizinkan mengikuti ujian oleh pengawas. 

Finally,
----> UTS : DONE! <----
***

Dan malam ini, mencoba menumpahkan cerita di blog karena finally mendapati hal baru lagi. Tapi bukan dari sekitaran saya seperti notes sebelumnya, kali ini langsung saya alami sendiri, mengamati diri sendiri!

Ada dua hal...
 
Pertama, bagaimana berusaha menenangkan diri di tengah situasi mendesak, di saat tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dan berharap. (cuma bisa duduk, gak mungkin keluar dari bus atau cari alternatif lain karena sudah stuck di tengah tol).


Saya jadi berpikir satu wejangan : “bersyukur disaat susah”. Rasanya, ini satu kesempatan kecil yang menantang saya untuk mempraktekkannya. Benar-benar sulit! Setiap menit yang berganti di handphone, seakan menjadi penentu hidup dan mati saya hari itu. Boro-boro bersyukur, untuk tetap tenang saja susah!
Kondisi Stuck tadi benar-benar membuat menit demi menit terasa sangat berharga buat saya.

Kedua, jadi terpikir kalau di tengah kesulitan, kita masih saja terus berharap. Dan benar saja, itu kecenderungan hati manusia; di tengah stuck yang menyebalkan itu, saya masih saja berharap bisa sampai tepat waktu.

Ada pepatah "ketika terjatuh 1000 kali, harus bangkit 1001 kali...", dan untuk bisa mencoba 1x yang terakhir  itu, karena adanya harapan, bukan? Di dalam kesulitan, ada pengharapan! 


Dan pastinya, saya sudah mendapat pengalaman baru, cerita baru lagi, yang mungkin gak terlalu penting untuk dibaca, tapi cukup seru untuk saya “nikmati” malam ini sekedar menuliskannya ke dalam blog. Senyum, tawa kecil, dan hati yang begitu bersyukur untuk bertambahnya pengalaman di perjalanan Jakarta-Tangerang yang kesekian kalinya. Thx God!

Minggu, 06 November 2011

25 Kilometres Each Day - To Complete My Days ...

Jakarta-Tangerang...

Bukanlah perjalanan yang terlalu jauh dan melelahkan untuk orang-orang yang setiap harinya harus menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer menuju belahan bumi lain untuk hal-hal yang dikerjakannya ...

Tapi juga bukan terlalu dekat bagi beberapa orang yang mobilitas di dalam rutinitasnya tidak terlalu panjang, sebutlah masih di dalam suatu lingkup kecil di kawasan tertentu. Tidak terlalu dekat memang, bahkan bisa disebut “cukup jauh”.

Hmm... Jadi rasanya sangat relatif dan tidak adil juga kalau rutinitas Jakarta-Tangerang yang saya jalani setiap weekdays untuk kuliah ini dirangkum hanya menjadi satu kata : “Melelahkan”, kalaupun boleh saya sebut "cukup jauh".
Seperti yang sudah puluhan kali saya dengar dari orang-orang yang bertanya kepada saya seperti ini “Enggak ngekos? Memang enggak capek yah pulang pergi begitu jauh naik bus dan angkot setiap  hari?”.

Pada beberapa kesempatan, mungkin dengan nada agak “sok kuat”, saya bisa langsung menjawab, “Ah, gak juga lah, gak terlalu jauh juga kok Jakarta-Tangerang kalau sudah biasa, hehehe... “. Tapi ada juga hari-hari dimana energi habis terkuras seharian di kampus dengan aktifitas yang melelahkan, saya bisa berpikir dengan sedikit gemas “Huff... Satu jam lebih lagi nih harus nahan ngantuk dan baru bisa sampai di rumah, itupun kalau gak macet... Kalau masih ngekos, sekarang udah bisa tidur pulas kali yah...”.
*****

Tapi, perjalanan Jakarta-Tangerang inilah yang membuat hari demi hari yang saya lalui menjadi berwarna, bahkan bisa dibilang bermakna. Ketika saya memilih untuk duduk di dalam bus-bus besar dan angkot yang mengantar rute rumah ke kampus setiap harinya, ya, di dalam Ajap 104 atau Patas 157 disambung angkot kuning strip biru menuju kampus, sambil menjaga diri dan barang bawaan, sembari memperhatikan sesama yang ikut menumpang di dalamnya, banyak hal yang memperlihatkan value lain dari kehidupan, terlepas dari rutinitas dan kepenatan kuliah setiap harinya.

Saya bersyukur karena masih diberi kesempatan seperti ini. Bukan berlebihan, tapi hal-hal yang sangat kecil dan remeh di dalam society ini justru menjadi alarm kehidupan yang mengingatkan saya bahwa masih terlalu banyak pembelajaran tentang kehidupan di luar sana, yang tidak dapat diberikan oleh sekolah ataupun universitas sekalipun. Di luar sana, di dalam society inilah menjadi tempat belajar bagi manusia untuk lebih peka dan berpikir lebih luas lagi, dengan bercermin pada manusia lainnya, dan syukur-syukur bisa lebih mensyukuri hidupnya sekarang.

Yang pasti, di dalam perjalanan itu, saya merasa ada begitu banyak moment yang mengesankan dan menginspirasi saya, yang hadir selalu baru setiap harinya, dan bisa menjadi bahan sharing untuk blog ini ke depannya. Saya mau menuliskan cerita-cerita itu sebagai suatu ‘privilege’ bagi saya, ketika di tengah gengsi dan kemampuan orang-orang modern hari ini untuk menjadi sangat individualis, saya masih diberi kesempatan dan hati untuk memilih cara lain seperti ini.

Will be so excited to wait, watch, write, and share those stories for my next writings.

Sambil menunggu cerita ke depan, saya sudah masukkan dua tulisan yang berkaitan dengan perjalanan Jakarta-Tangerang sebelumnya (Koin-koin kecil ; He Did An Action). Semoga menginspirasi. Regards, Suvi.