Pagi ini ...
Kita sama-sama terbangun dan masih tersadar,
Kita bernafas. Ya, masih hidup.
Tapi ...
Pagi ini, giliran kau yang mengajariku apa itu kehidupan.
Meski kau mungkin 15 tahun lebih muda dariku.

Pagi ini, aku bertemu denganmu..
Ya, semuanya berawal dari pagi ini.
Pagi ini, aku terbangun.
Mungkin dalam kebodohanku,
Kau bisa saja sebut aku pemalas, tak tau terima kasih.
Dikala kau, juga terbangun, dan kurasa dengan kepolosanmu,
Aku lirih untuk menyebutmu “kasihan”.
Toh sebenarnya lebih “kasihan” diriku, yang lebih suka bersungut-sungut dibandingkan dirimu.
Pagi ini, ibuku masih membangunkanku, menyiapkan sarapan untukku.
Memberi uang transport dan uang jajan yang bukannya sedikit...
Dikala kau, ketika terbangun, tak ada ibu di sisimu,
Bahkan kau tak sempat mengingat akan wajahnya sedari lahir.
Dan uang bagimu..
Ah, mungkin hanyalah koin-koinan yang sesegera kan kau tukar dengan nasi bungkusan,
Sekedar mengisi perutmu yang kosong semalaman kemarin.
Pagi ini, aku masih sempat mengulur waktu, bernyanyi sumbang di kamar mandi,
Sekedar menghibur diri.
Dikala kau, pagi-pagi benar, bukannya menghibur diri, kau lantas menghibur orang lain.
Kau berani, berani malu, berani nekad,
ya karena inilah cara terbaikmu bertahan hidup, sendirian.
Bernyanyi dari pagi, dari bus yang satu ke bus lainnya,
Meminta-minta koin dari tangan-tangan yang erat memeluk tasnya,
Seakan kau hanyalah pengganggu perjalanan mereka.
Kau tahu, pagi ini aku mendengarkanmu,
Meski gelagatku sama seperti mereka, seakan terganggu!
Kau membuka nyanyian dengan lagu gereja,
Kemudian doa kecil kau panjatkan, aku rasa itu juga untuk kami...
Kemudian kau bernyanyi lagi,
Sambil bus itu melaju kencang ditemani pemandangan petakan sawah di pinggir tol..
Dan kau mulai memunguti koin-koin di tangan kami,
Sebelum akhirnya tiba di rest area,
dan kau turun,
dan bersiap berpindah ke bus yang satu lagi.
Koinku sudah kumasukkan ke bungkusan itu tadi,
Meski aku sempat bingung, pecahan berapa yang pantas aku berikan,
Kalaupun itu masih bisa dibilang “untuk menolongmu”.
Yang pasti kau mengajariku pagi ini,
Tentang kehidupan..
Hanya lewat kehadiranmu di bus kota,
dan nyanyianmu.
Dan ketika semangat belajarku mungkin patah lagi di hari lain, kau tahu?
Aku akan mengingatmu, dan nyanyianmu.
Itu menamparku untuk tersadar,
Betapa bodohnya aku yang tak peka mensyukuri hidup,
lantas bersungut seakan sangat merana di dunia ini.
Aku mendoakanmu, sahabat kecil,
dan aku belajar darimu, pagi ini. Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar