Ketika kamu memandang seseorang,
mengagumi dan berambisi untuk memilikinya, itu bukan cinta.
Kamu sedang menyamakan dia dengan sebuah komoditi atau barang dagangan.
Yang ketika berhasil kamu dapatkan, ada kebanggaan yang sangat mendalam untuk memamerkannya ke semua orang di sekelilingmu.
Ketika kamu berhasil mendapatkan orang itu dan banyak menuntut perubahan darinya, itu bukan cinta.
Kamu sedang menikmati sebuah ide, sama halnya seperti membeli mobil baru.
Yang ingin sekali kamu modifikasi sesuai keinginan hatimu, sesuai dengan ideal di khayalanmu.
Hei, dia manusia, bukan barang!
Yang lebih parah lagi, ketika kamu sudah bosan dengannya,
dengan mudah kamu buang jauh-jauh dengan alasan yang basi : Jenuh.
Ketika dia tidak mampu menampilkan semua "kehebatannya", tinggal keburukannya,
lalu kamu berlari menjauh seakan tidak ingin mengenalnya lagi.
Kalau memang cinta bisa seremeh ini, mungkin kisah Romeo dan Juliet tidak pernah ada dalam sejarah Titanic yang tenggelam itu.
Kalau memang cinta bisa segampang ini, mungkin sudah jauh-jauh hari Habibie meninggalkan Ainun dengan kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya yang lemah.
Yang bukan dengan mudah kita dapatkan di pertokoan malam di jalan Malioboro,
tapi harus kita nantikan sepasti datangnya musim semi yang menumbuhkan sakura di Tokyo.
Butuh waktu, butuh pengharapan, butuh kesabaran, butuh perjuangan.
Karena tak selalu sakura itu tumbuh berseri setiap musimnya,
hanya pada musim semi yang terindah,
yang memang ada masanya bagi setiap insan di dunia.
Cinta butuh penantian ...
Yang terkadang panjang, terkadang lama datangnya.
Tapi percayalah, cinta sepasti musim semi,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar