Minggu, 06 November 2011

25 Kilometres Each Day - To Complete My Days ...

Jakarta-Tangerang...

Bukanlah perjalanan yang terlalu jauh dan melelahkan untuk orang-orang yang setiap harinya harus menempuh ratusan bahkan ribuan kilometer menuju belahan bumi lain untuk hal-hal yang dikerjakannya ...

Tapi juga bukan terlalu dekat bagi beberapa orang yang mobilitas di dalam rutinitasnya tidak terlalu panjang, sebutlah masih di dalam suatu lingkup kecil di kawasan tertentu. Tidak terlalu dekat memang, bahkan bisa disebut “cukup jauh”.

Hmm... Jadi rasanya sangat relatif dan tidak adil juga kalau rutinitas Jakarta-Tangerang yang saya jalani setiap weekdays untuk kuliah ini dirangkum hanya menjadi satu kata : “Melelahkan”, kalaupun boleh saya sebut "cukup jauh".
Seperti yang sudah puluhan kali saya dengar dari orang-orang yang bertanya kepada saya seperti ini “Enggak ngekos? Memang enggak capek yah pulang pergi begitu jauh naik bus dan angkot setiap  hari?”.

Pada beberapa kesempatan, mungkin dengan nada agak “sok kuat”, saya bisa langsung menjawab, “Ah, gak juga lah, gak terlalu jauh juga kok Jakarta-Tangerang kalau sudah biasa, hehehe... “. Tapi ada juga hari-hari dimana energi habis terkuras seharian di kampus dengan aktifitas yang melelahkan, saya bisa berpikir dengan sedikit gemas “Huff... Satu jam lebih lagi nih harus nahan ngantuk dan baru bisa sampai di rumah, itupun kalau gak macet... Kalau masih ngekos, sekarang udah bisa tidur pulas kali yah...”.
*****

Tapi, perjalanan Jakarta-Tangerang inilah yang membuat hari demi hari yang saya lalui menjadi berwarna, bahkan bisa dibilang bermakna. Ketika saya memilih untuk duduk di dalam bus-bus besar dan angkot yang mengantar rute rumah ke kampus setiap harinya, ya, di dalam Ajap 104 atau Patas 157 disambung angkot kuning strip biru menuju kampus, sambil menjaga diri dan barang bawaan, sembari memperhatikan sesama yang ikut menumpang di dalamnya, banyak hal yang memperlihatkan value lain dari kehidupan, terlepas dari rutinitas dan kepenatan kuliah setiap harinya.

Saya bersyukur karena masih diberi kesempatan seperti ini. Bukan berlebihan, tapi hal-hal yang sangat kecil dan remeh di dalam society ini justru menjadi alarm kehidupan yang mengingatkan saya bahwa masih terlalu banyak pembelajaran tentang kehidupan di luar sana, yang tidak dapat diberikan oleh sekolah ataupun universitas sekalipun. Di luar sana, di dalam society inilah menjadi tempat belajar bagi manusia untuk lebih peka dan berpikir lebih luas lagi, dengan bercermin pada manusia lainnya, dan syukur-syukur bisa lebih mensyukuri hidupnya sekarang.

Yang pasti, di dalam perjalanan itu, saya merasa ada begitu banyak moment yang mengesankan dan menginspirasi saya, yang hadir selalu baru setiap harinya, dan bisa menjadi bahan sharing untuk blog ini ke depannya. Saya mau menuliskan cerita-cerita itu sebagai suatu ‘privilege’ bagi saya, ketika di tengah gengsi dan kemampuan orang-orang modern hari ini untuk menjadi sangat individualis, saya masih diberi kesempatan dan hati untuk memilih cara lain seperti ini.

Will be so excited to wait, watch, write, and share those stories for my next writings.

Sambil menunggu cerita ke depan, saya sudah masukkan dua tulisan yang berkaitan dengan perjalanan Jakarta-Tangerang sebelumnya (Koin-koin kecil ; He Did An Action). Semoga menginspirasi. Regards, Suvi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar