KM - 5 .... STUCK!
Kemarin ...
Nov 16, 2011 -- Islamic.
Transit dari angkot kuning strip biru masuk ke dalam bus Patas 157 jurusan Cimone-Senen...
Seperti biasanya, sambil menahan kantuk dan lapar sepanjang perjalanan pulang kampus dan kebetulan sendirian. Seorang teman sudah pulang duluan, tidak sempat janjian pulang bareng.
Well ...
Masuk bus, duduk di deret kedua dari depan, di sebelah seorang ibu yang cukup gemuk dan beraut agak sangar, saya cuma bilang “misi ya” untuk duduk di kursi satunya. And then, MENUNGGU.
Masuk bus, duduk di deret kedua dari depan, di sebelah seorang ibu yang cukup gemuk dan beraut agak sangar, saya cuma bilang “misi ya” untuk duduk di kursi satunya. And then, MENUNGGU.
***
Si “Supir klimis” di siang menjelang sore itu agaknya benar-benar memancing emosi para penumpang. Sudah setengah jam bus dibiarkan “ngetem” tanpa bergerak, dalam kondisi stuck tanpa AC dan disinari terik matahari dari sudut barat, tepat di sisi kanan bus. Cukup menyiksa.
Saya sebenarnya benci dengan kebiasaan “ngetem” ala supir-supir bus yang terkadang tidak mengenal waktu. Mereka malah asik menikmati batangan rokoknya sembari memanggil-manggil pejalan kaki agar naik dan memenuhi bus. Memang sih, itulah resiko yang harus ditanggung jika menumpang di kendaraan umum (baca : angkutan bersama), jadi bersabar-sabarlah yah...
***
Dalam keadaan agak kesal menunggu, sambil sesekali memperhatikan sekeliling, tiba-tiba sempat terbesit dalam benak saya, “Kenapa rasanya flat banget yah perjalanan di bus hari-hari belakangan ini? Gak ada hal baru yang "agak extreme" gitu buat nambah pengalaman, buat diceritain di blog...”
***
Dan rasanya, pertanyaan sombong tadi langsung terjawab di esok harinya.
*******
Ini pagi yang “seharusnya” menyenangkan, hari terakhir ujian tengah semester... EURIKAAAAAAAAAA!!!!!
***
Naik ke dalam bus dari depan kampus Untar, dan lagi-lagi Patas 157.
Rencananya saya ingin melanjutkan rancangan schedule di otak untuk closing uts hari ini bersama teman-teman.
Rencananya saya ingin melanjutkan rancangan schedule di otak untuk closing uts hari ini bersama teman-teman.
Mengambil tempat paling depan tepat di belakang supir, ini adalah cara yang saya pikir cukup ampuh untuk sekedar melindungi diri dari tindak kejahatan, meskipun hal itu bisa saja terjadi dimanapun. Sekali anda mengeluarkan dompet, memakai benda/perhiasan berharga, apalagi bermain HP atau blackberry sepanjang perjalanan, itu bisa saja memancing perhatian mata-mata jahat untuk mengincar anda. Saya berusaha untuk tidak melakukan hal-hal tadi.
***
Tak disangka, pagi ini bertemu lagi dengan si “supir klimis” kemarin, abang-abang tukang “ngetem” yang cukup membelokkan mood saya.
“Brep (duduk)... Yaelah, si abang lagi... Hufff... Oke, lets waste 20 more minutes until he drives this bus, just stay calm, Ling”, cuma itu yang ada di pikiran saya. Benar saja, sekitar 15 menit-an itu, bus baru dijalankan lagi oleh si supir, dan saya pikir masih ada cukup waktu untuk tiba di kampus.
***
Baru mulai menanjak jembatan layang di seberang mall Taman Anggek memasuki tol Jakarta-Tangerang, belum terlalu jauh dari Untar, saya menemukan adanya antrian kendaraan yang tidak biasa terjadi. Seharusnya, jalan tol Jakarta menuju Tangerang masih lengang dan sebaliknya arah Tangerang menuju Jakarta yang dipastikan macet total. Tapi hari ini, keduanya STUCK!
Si “kenek berkumis” bilang ke “supir klimis” kalau ada kecelakaan di depan sana, entah di kilometer berapa. Saya yang tepat di belakang mereka langsung berpikir “Tenang, tenang... masih ada satu jam lagi sebelum ujian, gak telat lah...”
Tapi, ketenangan tadi sontak berubah menjadi kebingungan karena bus sama sekali tidak bergerak untuk beberapa menit pertama. Kali ini, bukan stuck karena ulah si "supir klimis" itu seperti kemarin sore...
Saya yang jarang berani mengeluarkan handphone sepanjang perjalanan, akhirnya memberanikan diri ber-sms ria dengan dua orang teman yang sama-sama berangkat ke kampus dari Jakarta; yang satu berada 2 KM di depan saya, sedangkan yang satu lagi baru sampai di depan Untar. Saya sendiri masih berada di kilometer 1, dan mulai kelabakan! Puluhan sms pun hanya ungkapan kegelisahan kami bertiga, tanpa solusi...
Saya yang jarang berani mengeluarkan handphone sepanjang perjalanan, akhirnya memberanikan diri ber-sms ria dengan dua orang teman yang sama-sama berangkat ke kampus dari Jakarta; yang satu berada 2 KM di depan saya, sedangkan yang satu lagi baru sampai di depan Untar. Saya sendiri masih berada di kilometer 1, dan mulai kelabakan! Puluhan sms pun hanya ungkapan kegelisahan kami bertiga, tanpa solusi...
“Lo ngampus ga suv? Mampus ini tol matot, ada kecelakaan kata tukang tahu! Gue masih di KM-3 !!!! Sampah.... Matiiiiiii.... Matiiiiiii...”, sms pertama masuk dari FC yang dua KM di depan saya.
“Serius ? Mampus gw... Gimana dong... AH! Gimana Suv... Masih stuck depan Untar nih gw, stressssssss! Bisa nyampe jem berapa cobaaaa.. mampus deh kita Suv.. Aduuuhh... Wah pasrah deh bener2 gw”, reply dari teman yang satu lagi, RA, yang malahan belum memasuki tol.
Setengah jam pertama berada di dalam bus yang jalannya tersendat-sendat, saya panik luar biasa! Saya mulai menghentak-hentakan kaki sembari mengoyak tissue di tangan. Bahkan, sampai teman dari kampus menelepon, saya menjawabnya dengan nada kesal dan hampir menangis karena kondisi masih stuck dan waktu saya tinggal setengah jam lagi, benar-benar menyebalkan! *Kinda Hopeless*
***
Singkat cerita, ternyata kecelakaan terjadi di KM - 5, cuma gara-gara satu mobil box yang pecah ban dan merunyamkan segalanya!!
***
After that, having passed the accident ....
Bus pun bisa melaju kencang dan tepat pukul 08.00 saya baru sampai di Islamic dan langsung menaiki ojek yang ngebut menghantar saya ke kampus. 08.15 saya sampai di kampus, lari dengan tergesa-gesa menuju lift, sempat meminta minuman teman sambil cerita heboh sejenak di lift, dan (syukurnya) masih diizinkan mengikuti ujian oleh pengawas.
Finally,
Finally,
----> UTS : DONE! <----
***
Dan malam ini, mencoba menumpahkan cerita di blog karena finally mendapati hal baru lagi. Tapi bukan dari sekitaran saya seperti notes sebelumnya, kali ini langsung saya alami sendiri, mengamati diri sendiri!
Ada dua hal...
Pertama, bagaimana berusaha menenangkan diri di tengah situasi mendesak, di saat tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dan berharap. (cuma bisa duduk, gak mungkin keluar dari bus atau cari alternatif lain karena sudah stuck di tengah tol).
Saya jadi berpikir satu wejangan : “bersyukur disaat susah”. Rasanya, ini satu kesempatan kecil yang menantang saya untuk mempraktekkannya. Benar-benar sulit! Setiap menit yang berganti di handphone, seakan menjadi penentu hidup dan mati saya hari itu. Boro-boro bersyukur, untuk tetap tenang saja susah!
Saya jadi berpikir satu wejangan : “bersyukur disaat susah”. Rasanya, ini satu kesempatan kecil yang menantang saya untuk mempraktekkannya. Benar-benar sulit! Setiap menit yang berganti di handphone, seakan menjadi penentu hidup dan mati saya hari itu. Boro-boro bersyukur, untuk tetap tenang saja susah!
Kondisi Stuck tadi benar-benar membuat menit demi menit terasa sangat berharga buat saya.
Kedua, jadi terpikir kalau di tengah kesulitan, kita masih saja terus berharap. Dan benar saja, itu kecenderungan hati manusia; di tengah stuck yang menyebalkan itu, saya masih saja berharap bisa sampai tepat waktu.
Ada pepatah "ketika terjatuh 1000 kali, harus bangkit 1001 kali...", dan untuk bisa mencoba 1x yang terakhir itu, karena adanya harapan, bukan? Di dalam kesulitan, ada pengharapan!
Ada pepatah "ketika terjatuh 1000 kali, harus bangkit 1001 kali...", dan untuk bisa mencoba 1x yang terakhir itu, karena adanya harapan, bukan? Di dalam kesulitan, ada pengharapan!
Dan pastinya, saya sudah mendapat pengalaman baru, cerita baru lagi, yang mungkin gak terlalu penting untuk dibaca, tapi cukup seru untuk saya “nikmati” malam ini sekedar menuliskannya ke dalam blog. Senyum, tawa kecil, dan hati yang begitu bersyukur untuk bertambahnya pengalaman di perjalanan Jakarta-Tangerang yang kesekian kalinya. Thx God!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar