Jumat, 09 Desember 2011

(mungkin) melebihi apapun ...

As usual, Patas 157 brings my way home.
Sore ini, secara kebetulan, duduk ditengah dua ibu-ibu berjilbab.
Yang satu sibuk ber-sms ria; sedangkan yang satu lagi baru saja naik dan duduk di sebelah kiri saya. Tak lama ia duduk, teleponnya berdering. “Iya Abah, ini Rum...”, jawabnya dengan sedikit berteriak, lantaran suara mesin dari bus yang melaju cukup kencang, terdengar bising di telinga.
 
Saya sempat melongo, lantaran ibu ini semakin kencang berteriak di telepon, sambil handphonenya diarahkan ke mulut ketika berbicara, kemudian diarahkan lagi ke telinganya untuk mendengar, layaknya pager zaman dulu. “Yaudah, maklumin aja”, pikir saya.
Karena bengong selama perjalanan tadi, saya sambil mendengarkan saja pembicaraan telepon ibu itu.

“Bah, iya ini Rum. Rum lagi di Tangerang sekarang, abis ke rumah bu Ratna bayar hutang dua ratus ribu”, sambil si ibu ini sibuk membolak-balik handphonenya persis penggunaan pager polisi. “Aduh bu, agak heboh yah teleponannya, hehehe”, gelitik tawa di hati saya, awalnya.

“Rum udah kerja di panti, urusin orang-orang tua.. Harus siap 24 jam, Bah, capek.. Tapi 10 hari Rum dapet 560 ribu, terus tadi langsung bayar utang ke bu Ratna 200... ini sisanya Rum entar kirim ke Abah yah 150, 150 lagi Rum buat ongkos sama makan di Jakarta”.
(Saya tetap stay cool dan mulai tertarik untuk sekilas mendengarkan, meski ada beberapa kali suara keras si ibu memekik telinga saya).
 “Ini Rum lagi di jalan mau ke Kota, ada tawaran lagi, Bah. Dua jutaan kata bu Ratna, entar ketemu dulu sama majikannya. Urus orang tua juga, udah lumpuh 6 tahun katanya.”

Kemudian, suara si Abah di telepon sekilas terdengar jelas di telinga kiri saya, kira-kira begini “ Ya syukur, masih bisa sholat? Jangan sampe lupa ya”.
“Iya, Bah. Rum mah sebisa mungkin lima waktu, mau gimana kerjaan Rum usahakan tetep sholat. Buat apa duit gaji banyak-banyak tapi gak bisa sholat, Rum gak mau, lebih baik Rum cari kerjaan lain asalkan bisa tetap lima waktu. Iya, Rum nanti gak bawa banyak baju lagi soalnya cuma pake baju rawat sama mukenah aja, Bah.. Ini telepon bukan punya Rum, ini dipinjemin, Bah. Nanti kapan Rum bakal telepon lagi, tapi Abah jangan telepon ke sini, ini punya temen Rum di Tangerang. Rum kapan-kapan kabarin Abah lagi........... ”

Dan pembicaraan mereka pun berakhir singkat, tapi seakan sudah cukup memberi pelajaran lagi buat saya hari ini; Tentang hidup yang mungkin sulit, tapi prinsip hidup itu tetap teguh dipegang! Tentang pekerjaan yang mungkin terlihat remeh, tapi nyatanya penuh dedikasi dan kesabaran. Tentang iman yang mengalahkan ambisi duniawi soal uang, uang, dan hanya berkutat pada uang! Dan tentang ibu bermukenah ini, yang masih terus berdekat mencari Sang Pemilik Hidupnya, (mungkin) melebihi apapun...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar