Ngamen, Ngamen, dan Ngamen...
Bus kota, always be like this, selalu dihantar oleh pengamen jalanan sepanjang rutenya.
Mulai dari pengamen cilik, pemuda, bapak-bapak, ibu-ibu, kakek-kakek, semuanya...
Dan yang namanya bus umum di Jakarta, lets say “HARI GINI ???”, lebih baik ikhlasin gopek-gopek di dompet lah ketimbang dipalak atau dijahati dengan berbagai cara yang gak terpikirkan lagi.
Ya, sama seperti hari-hari biasanya, saat saya berangkat dan pulang ngampus, selalu ada saja beraneka suara terdengar di koridor bus kota, agak ke belakang kedengarannya, karena saya kebanyakan duduk di kursi-kursi depan.
Mari mulai dari yang selalu teringat...:D
Ada bapak bergitar merah dengan ciri khas-nya yang selalu menyanyikan lagu gereja. Ketika mencapai nada-nada tinggi, suaranya gak lebih bagus dari orang ngeden.! Malahan, sering kali suaranya bisa hilang karena sangking tinggi nada yang gak bisa dinyanyikan (cuma mikir, kenapa gak diturunin 1 kunci siiiih paaaaaaak nadanya...).. Yah, tapi itulah keunikan dari si bapak bersuara maksa ini, dirasa lebih seksi kali yah suara tingginya..
Ada lagi ibu-ibu yang selalu membawa anak dan kecrekan, nyanyi dangdut dengan cengkok-cengkok suara yang gak karuan; ditambah lagi anak-anaknya juga ikutan nyanyi dengan berteriak, karena suara mesin bus saat melaju kencang, terdengar bising. Dan lebih ngenes lagi, itu anak-anaknya menyebar sepanjang koridor; pernah sekali, anak paling kecilnya teriak pas ngarah ke telinga saya, nusuk sampai ke gendang telinga, entah harus gimana selain menutup kuping sebelah dengan tangan.
Apalagi kalau lagi naik bus di siang bolong dengan terik matahari yang membakar, ditemani nyanyian mereka. Serasa ingin mengikhlaskan uang lima ribuan dan meminta mereka seketika itu juga berenti dari nyanyian sumbangnya, ketimbang penumpang harus kesakitan nahan pusing dan emosi jiwa – tapi balik lagi, ini kendaraan umum – bus kota - untuk siapa saja tanpa ada pembedaan status.
Ada lagi pemuda yang setiap nyanyi, suaranya terdengar seperti orang mabok atau preman yang gak pernah mau usaha untuk hidup; bahasa lembutnya mungkin : pemalas.
Tapi dia cukup kreatif, menyanyikan lagu yang dibikin sendiri; saya gak hafal semuanya, tapi yang nyantol di kepala kira-kira lirik belakangnya begini :
Saya disini cuma ngamen om... Buat makan buat bayar kontrakan..
Bagi yang pelajar, pasti punya uang tabungan.. bagi yang karyawan, punya uang gajian..
Kalau gak ada ribuannya, ya beri gopek-an.. kalau gak ada gopek-an, ya beri recehan.. kalau gak ada recehan, angkat tangan bilang maaf, ya beri senyuman.. jangan pura-pura ketiduran om *nanti bisa tidur beneran*.. jangan pura-pura baca koran mas *maaf ya bu, pak, yang lagi baca koran*...
Agak menyebalkan yah pengamen yang tipe begini.. tapi sekaligus yang cukup "mengancam" kalau kita nekad tidak memberi recehan...
Oh iya, juga sempat sekali, ada bapak-bapak yang sudah cukup renta, mungkin 60-65 tahunan, yang harusnya sudah menikmati hari tuanya, tapi masih harus ngamen dengan mic dan speaker kecil, kedengarannya lagu-lagu lawas. Tiba-tiba, speakernya digelantungin di pegangan koridor tepat di atas tempat duduk saya – kalau bus tiba-tiba ngerem, dan amit-amitnya itu speaker jatuh kena kepala saya... engga kebayang deh si bapak punya asuransi jiwa untuk penumpang yang lagi dengerin ngamennya atau engga *ya mana mungkin juga kan...* Alhasil, saya langsung buru-buru pindah tempat duduk, daripada ketimpa speaker.
Ada juga yah yang ngamen, tapi dia gagu. Kebayang gak gimana dia ngamen? Makanya naik bus kota, hehehe.. jadi kira-kira, suaranya kayak meringkuh, gak ada vokal yang jelas terucap sama sekali, cuma suara ringkuhan dan kecrekannya saja yang terdengar. Ah, benar-benar yang seperti ini kadang bikin hati lirih...
Pernah juga anak kecil ngamen, sendirian, masih pagi jam setengah 7, pas saya berangkat ngampus.
Suaranya baguuuuuuuus banget...!
Saya sih langsung ngasih gopek dengan ikhlas, tapi sembari kepikir, apakah dunia adil?
Bahkan saya yang sudah dikuliahin dengan biaya besar, masih sempet-sempetnya males masuk kuliah hari itu – while – anak ini, pagi-pagi aja sudah harus cari koin untuk sekedar bisa isi perutnya. *what a pity, myself* (ada ceritanya di tulisan saya : http://suvi-writingforliving.blogspot.com/2011/10/koin-koin-kecil.html)
Juga tadi pagi, sudah beberapa hari sih telinga saya mendengar ada suara yang bagus dari seorang pemuda, yang saya perhatiin, dia tinggi dan agak gembul, tapi suaranya bagus banget.. kalau yang begini, pengen deh ngomong “mas, coba ikut Indonesian Idol deh, siapa tahu ada kesempatan...”
Pernah ada juga pengamen yang (beneran) gak punya kaki, jadi naik dan turun bus saja susah. Cara ngamennya, dia kalungin speaker kecil tergantung agak berat di lehernya, dan menyeret-nyeret pinggulnya sepanjang koridor bus untuk berjalan ke depan. kita yang duduk di bus, langsung ibah dengan kondisinya, apalagi pas nyanyi, speakernya pakai acara rusak, harus digetok-getok dulu. Terus, yang saya tahu, koridor bus itu kan panas, kaki kita yang pakai sepatu aja kalau berpijak masih terasa panas, apalagi pinggul pengamen itu, tanpa alas apapun. Setelah mengamen, pinggulnya itu harus bergesekan lagi dengan koridor bus dari depan sampai belakang untuk ngumpulin recehan, sembari tangannya harus terangkat tinggi ke atas, karena posisi pengamen ini yah di bawah penumpang yang duduk. That life really is, dude!
Pernah ada juga pengamen yang (beneran) gak punya kaki, jadi naik dan turun bus saja susah. Cara ngamennya, dia kalungin speaker kecil tergantung agak berat di lehernya, dan menyeret-nyeret pinggulnya sepanjang koridor bus untuk berjalan ke depan. kita yang duduk di bus, langsung ibah dengan kondisinya, apalagi pas nyanyi, speakernya pakai acara rusak, harus digetok-getok dulu. Terus, yang saya tahu, koridor bus itu kan panas, kaki kita yang pakai sepatu aja kalau berpijak masih terasa panas, apalagi pinggul pengamen itu, tanpa alas apapun. Setelah mengamen, pinggulnya itu harus bergesekan lagi dengan koridor bus dari depan sampai belakang untuk ngumpulin recehan, sembari tangannya harus terangkat tinggi ke atas, karena posisi pengamen ini yah di bawah penumpang yang duduk. That life really is, dude!
Yah, masih banyak lagi cerita tentang mereka, dan nyanyiannya; dari yang menyenangkan sampai yang cukup “menyakitkan” telinga; saya anggap itu semua sebagai hiburan di tengah keruwetan hidup orang-orang kota.
Cuma, yang mau saya share hari ini: baru sadar kalau budaya mendengar dan menikmati moment seperti ini tuh udah mulai jarang di lingkungan kita yang serba modern, trendi, gengsi, individualis, dan konsumeris.
Zaman sekarang, kebanyakan orang cuma mau mendengar lewat mata, bukan lagi mendengar lewat telinga – apalagi hati -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar