I am just --- blessed...
Jendela yang terbuka lebar tepat di sebelah kanan wajah saya mulai menerpakan angin kencang, diikuti suara gemuruh mesin bus yang melaju cepat.
Kertas cetakan yang sudah saya siapkan untuk belajar UTS pun nyaris terlepas dari genggaman. Saya putuskan untuk sebentar memerhatikan si supir bus bertopi hitam yang nampak mulai ugal-ugalan; tangan kirinya cukup lihai mengendalikan setir sementara tangan kanannya bergelantungan di pintu sambil memegangi rokok batangan yang baru dibelinya. Suaranya pun meningkat, berusaha meminta si kenek bus yang ada di kursi belakang untuk membantu mengatur ruang gerak bus yang mau menyelip kontainer gandeng agak ke kiri.
"Hmm.. masih ada 19 kilometer bersama supir gila ini...", pikir saya.
Duduk di baris kedua dari depan, jantung saya cukup berdebar dikala si supir mulai menancap gas lebih kencang dan mulai mendahului trayek saingannya yang sama-sama mengarah ke Kebun Jeruk untuk "melahap" penumpang sebanyak-banyaknya, yang akan dibawanya menuju Islamic, Lippo Karawaci.
Saya agak bersiap diri, semua kertas dan buku file yang tadinya saya genggam di tangan untuk belajar pagi itu, saya putuskan untuk memasukkannya ke dalam tas. Barangkali bus akan oleng atau menabrak apapun yang ada di depannya, setidaknya saya masih bisa berpegangan pada bangku di depan saya, pikir saya yang begitu di luar logika.
Mungkin ini rasa cemas yang berlebihan, tapi kalau dipikir lagi, nampaknya hal ini wajar karena sepanjang saya menumpang pada kendaraan umum seperti itu, memang sering kali supir bus ugal-ugalan menyetir demi mengejar setoran - mungkin jarang sekali mereka sempat berpikir untuk mengedepankan kenyamanan dan keselamatan penumpangnya.
Yang jelas, kami yang sudah membayar dan duduk di deretan
kursi bus itu cukup siaga untuk berpegangan dan menjaga keseimbangan
menyeimbangi gerak bus yang melaju kencang dan bergerak sangat 'luwes'
tak beraturan itu.
Sepanjang perjalanan itu, wajah penumpang di sekitar saya cukup panik. Bus yang melaju kencang, tiba-tiba menyelip kontainer besar ke arah kirinya, kemudian kembali menancap gas, juga tidak memasang jarak aman dengan mobil sedan yang berjalan agak pelan di depannya, menekan klakson berulang kali agar mobil yang menghalanginya bergerak minggir; ulah si supir benar-benar seperti rajanya jalanan. Entah, mungkin beberapa dari kami di dalamnya hanya berdoa dalam hati, dan mungkin juga di saat-saat mencekam seperti itu kita baru dipaksa mengingat sang Khalik(?)
Entahlah...
Sepanjang perjalanan "extreme" kali itu, ada satu moment berkesan untuk saya.
Seorang kakek tua yang begitu renta, tebakan saya, mungkin seusia 65 tahun ke atas, dengan baju kemeja putih yang sangat kotor dan usang, berdiri ke tengah koridor. Tadinya saya pikir sang kakek adalah penumpang yang ingin berpindah ke kursi deretan depan, tapi ternyata, sang kakek justru hendak mengamen di koridor bus!
Awalnya, sang kakek berusaha keras berjalan sepanjang koridor dari depan sampai belakang bus untuk menyodorkan amplop kecil ke penumpang, dengan harapan diisi dengan recehan seikhlasnya.
Amplop itu bertuliskan (seingat saya) : "assalam'mualaikum wr wb. saya mengamen untuk menambah ongkos pulang ke kampung di Solo. Mohon bantuan bapak/ibu. "
Dengan tubuhnya yang kecil dan lemah, kakek ini gemetar menyusuri koridor bus dengan berupaya keras berpegangan di kedua sisi tempat duduk, salah satunya pada senderan kursi saya.
Iba, dan merasa begitu guilty feeling; ingin rasanya berkata ke sang kakek untuk berhenti saja, kalaupun memberi sejumlah uang, pastilah penumpang bus itu rela.
Dengan kondisi supir bus yang masih menyetir ugal-ugalan, sang kakek hanya berusaha keras berdiri di koridor tengah bus, entah apa yang diucapkannya, suranya sayup-sayup terdengar. Jelas, tubuhnya saja sudah renta, ditambah tenaga yang harus dikeluarkannya untuk berdiri di tengah laju bus yang kencang tak beraturan, masih kuat berbicara saja benar-benar usaha yang keras. Siapapun yang melihat sang kakek pagi itu seharusnya sadar kalau ada seorang tua yang "butuh pertolongan", bukan sekedar "minta recehan sisa".
Entah dimana sang kakek ini sekarang, barang kali sudah hampir satu bulan saya tidak bertemu lagi dengannya. Saya masih berharap sang kakek benar-benar sudah pulang ke kampungnya, setidaknya ada keluarga yang merawatnya di hari tuanya itu, bukan lagi menempa diri dalam kerasnya kehidupan.
***
Well, singkat cerita, saya dan rombongan penumpang bus hari itu masih selamat tiba di Islamic.
Tidak kekurangan suatu apapun, malah buat saya, bertambah satu pengalaman lagi.
Yang meskipun dinilai sangat remeh, sangat sepeleh,
tapi buat saya, it's another experience in life.
I am blessed.
Satu kalimat yang bukanlah sekedar saya baca atau dapatkan dari textbook perkuliahan; lebih lagi, ini tentang kehidupan, soal pilihan yang remeh namun berdampak dalam pembentukkan saya - Ini soal anugrah dan menghitung berkat.
Ini soal bersyukur dan bersyukur lagi untuk setiap hal, hebat ataupun remeh.
Ini soal pilihan - memilih rutinitas ini, bukan hal yang sebenarnya saya dambakan sebagai seorang pemudi, ini hanya soal bagaimana mengambil sikap : pilih yang nyaman tanpa derita, atau yang hiruk pikuk namun banyak cerita.
Dan bagi saya, pilihan ini patut disyukuri, karena meski terkadang lelah, tapi disanalah saya banyak belajar lagi, soal kehidupan. Thank God.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar