Satu frasa yang cukup sulit untuk dijabarkan.
Ini soal pertalian, ini soal perasaan, ini soal pengalaman...
Ini tentang berjalan bersama-sama.
Bukan bicara soal matematika ataupun ekonomi.
Bukan menambah atau mengurangi,
apalagi bicara untung-rugi.
Juga bukan hal kedokteran atau farmasi,
yang ketika dilukai, nantinya berharap diobati.
Janganlah menyebutnya ilmu komputer atau teknik industri,
yang bisa di-setting begitu brilian tapi gunanya hanya mengekstensi kerja manusia.
Ekstensi, kadang kita sebut "penolong".
Tapi bahayanya, kalau sudah tidak butuh, dengan mudah kita lupakan!
Oh, apalagi dikaitkan dengan ilmu politik.
Winston Churchill pernah berkata :
"There are no permanent enemies and no permanent friends, only permanent interests."
Pertemanan itu...
Mungkin ibarat seni..
Seniman boleh saja bangga ketika pertemanan bisa dideskripsikan lewat karya mereka.
Tapi kumohon, lukislah itu sebagai lukisan yang realistik dan indah, bukan abstraksi.
Karena pertemanan bisa jadi seperti gambar yang kelihatan begitu hidup,
tapi bisa juga menjadi gambar yang semeraut absurdnya.
Atau, bisa juga menulis!
Ya, mungkin menulis..
Karena di dalamnya kita bisa bercerita tentang perjalanan bersama.
Tapi, tuliskanlah cerita itu dengan sepenuh hati, dengan mengalir lepas.
Jangan menulis seperti para birokrat, yang demi menampilkan keindahan kata-kata,
mereka sering menghapus kesederhanaan cerita dan diganti dengan kekakuan tata bahasa.
Mungkin, pertemanan itu ada di segala ilmu..
Hanya saja, banyak yang salah mengintepretasikan dalam hidupnya.
Padahal, sederhananya,
pertemanan bicara soal mengukir tulisan di atas batu.
Batu itu bicara hati, dan tulisan itu bicara nama-nama yang terukir.
Kadang tidak terlalu indah, tapi kadang juga ada yang begitu mempesona.
Kadang penuh sensasi, sering kali juga pahatannya menyakitkan hati.
Tapi,
hati kita rela dengan segala konsekuensinya itu.
Karena ketika kita memutuskan untuk berteman,
saat itu kita memutuskan untuk memberi tempat.
Memberi ruang bagi nama-nama mereka,
untuk terukir di dalam hati kita.
Yang, meskipun memberi suka ataupun luka,
mereka punya makna masing-masing dalam hidup kita.
Satu kalimat dari seorang guru SMA,
yang terus teringat di benak ini.
"Berteman itu soal meninggalkan jejak kaki di hati orang lain."
Selama kita belum bisa memberikan ketulusan di dalamnya,
selama mereka belum meninggalkan jejak,
atau menorehkan rasa di hati,
mungkin kita masih "berdagang".
Mungkin kita sekedar memanfaatkan, extreme-nya, munafik!
Jelas, belum pantas kita me-labelnya seharga pertemanan.
Karena berteman itu,
soal kepercayaan, ketulusan dan penghargaan.
Berteman itu,
Soal hari ini mengenal, dan akan seterusnya begitu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar